Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Dorong Kajian Akademik Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih untuk Perkuat Sejarah Sunda

Penulis: Agus Hermawan  •  Senin, 18 Mei 2026 | 15:39:40 WIB
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mendorong kajian akademik untuk mengungkap fakta sejarah Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih.

BOGOR — Dedi Mulyadi menilai pendekatan akademik menjadi satu-satunya cara untuk mengungkap fakta sejarah di balik dua benda cagar budaya yang selama ini identik dengan mitos dan kepercayaan lokal. Ia menyebutkan bahwa kajian komprehensif harus mencakup berbagai aspek, mulai dari tanggal pembuatan, bahan, hingga makna tulisan pada Prasasti Batutulis.

Dua Artefak, Satu Tujuan: Menguak Fakta di Balik Mitos

“Jadi Batutulis nanti harus ada buku akademiknya, memberikan kajian secara komprehensif, dimulai dari tanggal pembuatan, bahan pembuatan, siapa yang membuat, apa arti tulisannya dan nanti kemudian Mahkota Binokasih Sanghyang Pake juga sama,” kata Dedi dalam Diskusi Kecagarbudayaan di Museum Pajajaran Bogor, Kamis (14/5/2026).

Prasasti Batutulis sendiri merupakan salah satu bukti fisik keberadaan Kerajaan Pakuan Pajajaran yang berpusat di kawasan Bogor. Selama ini, prasasti tersebut kerap dikaitkan dengan berbagai cerita mistis oleh sebagian masyarakat, sehingga nilai historisnya kerap tertutupi.

Dari Dokumentasi ke Arah Pembangunan Budaya

Dedi menegaskan bahwa hasil kajian akademik nantinya tidak hanya akan menjadi dokumentasi sejarah yang berhenti di atas kertas. Gubernur berharap kajian itu bisa menjadi landasan kebijakan di berbagai sektor, termasuk tata ruang, kurikulum pendidikan, hingga arah pembangunan budaya di Jawa Barat.

“Kota Bogor memiliki posisi historis penting sebagai pusat Kerajaan Pakuan Pajajaran, dan itu dibuktikan melalui keberadaan Prasasti Batutulis,” ujar Dedi. Menurutnya, penguatan identitas sejarah lokal harus dimulai dari pemahaman yang benar dan terverifikasi secara ilmiah.

Respons Akademisi dan Langkah ke Depan

Dorongan Gubernur ini disambut positif oleh sejarawan dan pegiat budaya Sunda yang selama ini mengeluhkan minimnya publikasi akademik mengenai artefak-artefak peninggalan kerajaan. Mereka menilai langkah ini bisa menjadi titik balik dalam upaya pelestarian dan edukasi sejarah di Jawa Barat.

Belum ada kepastian mengenai institusi mana yang akan ditunjuk untuk menyusun kajian tersebut. Namun, Dedi mengisyaratkan akan melibatkan akademisi dari universitas-universitas di Jawa Barat serta ahli epigrafi untuk memastikan akurasi data.

Jika terealisasi, kajian ini akan menjadi salah satu proyek riset sejarah paling ambisius yang digagas pemerintah daerah dalam satu dekade terakhir.

Reporter: Agus Hermawan
Sumber: jabarnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top