JAWA BARAT — Koreksi harga emas di gerai Pegadaian kali ini terbilang signifikan, terutama untuk produk besutan UBS yang merosot hingga puluhan ribu rupiah per gram. Tren pelemahan di tingkat ritel lokal ini terjadi setelah pasar komoditas global merespons positif sejumlah kesepakatan diplomatik di level internasional.
Pergerakan harga emas di dalam negeri tidak lepas dari dinamika geopolitik dan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Harapan akan penyelesaian konflik di Iran mulai mendinginkan pasar minyak mentah dunia, yang kemudian meredakan kekhawatiran inflasi global.
Kondisi tersebut menekan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun dari level tertingginya sejak awal tahun. Saat yield obligasi melandai, daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil biasanya akan mengalami penyesuaian di pasar internasional.
"Kita telah melihat jeda dari peningkatan imbal hasil yang berkelanjutan. Akibatnya, kita telah melihat harga emas menguat dari titik terendah baru-baru ini," ujar David Meger, Direktur Perdagangan High Ridge Futures.
Di pasar spot, harga emas dunia sempat naik 1 persen ke level USD 4.532,72 per troy ounce (sekitar Rp 72,52 juta per troy ounce) pada perdagangan Rabu. Namun, penurunan harga minyak mentah Brent setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait potensi cepatnya penyelesaian konflik Iran membuat pelaku pasar kembali realistis terhadap prospek inflasi jangka panjang.
Transmisi sentimen global tersebut langsung berdampak pada harga ritel di outlet Pegadaian. Emas batangan UBS mencatatkan koreksi paling dalam, yakni menyusut Rp 48.000 menjadi Rp 2.797.000 per gram dari hari sebelumnya yang berada di angka Rp 2.845.000 per gram.
Sementara itu, emas cetakan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) di Pegadaian kini dibanderol Rp 2.862.000 per gram, alias turun Rp 25.000 dari harga sebelumnya. Anak usaha Pegadaian, Galeri24, juga memotong harga produknya sebesar Rp 26.000 menjadi Rp 2.756.000 per gram.
Berikut adalah daftar harga pecahan emas batangan di Pegadaian per 21 Mei 2026:
Langkah investasi ke depan akan sangat bergantung pada arah suku bunga acuan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Biaya bahan bakar yang lebih rendah akibat redanya ketegangan Timur Tengah berpotensi menekan inflasi, memberi ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini melihat ada probabilitas sebesar 89,6 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juni mendatang. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada Desember berada di angka 48,6 persen.
Jika suku bunga AS mulai dipangkas akhir tahun ini, biaya peluang memegang emas akan menurun. Hal ini berpotensi memicu reli baru pada harga logam mulia di tingkat domestik maupun global dalam jangka menengah.