KUNINGAN — Empat destinasi bersejarah di Kabupaten Kuningan layak dikunjungi untuk libur akhir pekan. Selain menikmati suasana, pengunjung bisa mempelajari langsung jejak sejarah dari masa kerajaan, kolonial, hingga perjuangan kemerdekaan.
Situs ini berada di Blok Cipicung, Kecamatan Kuningan. Pengunjung harus melewati gang kecil dan gapura candi bentar untuk mencapai kompleks makam.
Di dalamnya terdapat empat makam keramat. Makam utama adalah Pangeran Arya Kemuning, Adipati pertama Kuningan yang memerintah pada abad ke-15 Masehi. Tiga makam lain adalah istrinya, Nyi Mas Manawati; Syekh Maulana Arifin; serta Pangeran Putih.
Konon, nama Kemuning berasal dari kulit sang pangeran yang kekuningan, mirip ibunya, Putri Ong Tien. Tidak ada tiket masuk, pengunjung hanya diminta menjaga kebersihan dan ketenangan.
Berlokasi di Desa Lengkong, Kecamatan Garawangi, bangunan ini berbentuk rumah panggung dari susunan kayu. Eyang Hasan Maolani adalah ulama dan pejuang asal Kuningan yang hidup sekitar abad ke-19.
Karena konsisten menentang penjajahan Belanda, ia diasingkan ke Manado pada 1843 dan wafat di sana pada 1874. Rumah peninggalannya masih terjaga, menyimpan benda bersejarah seperti terompah, jubah, dan kitab.
Tidak jauh dari rumah, terdapat situs "makam rambut" yang konon menyimpan rambut Eyang Hasan Maolani yang dikirim dari Manado. Tujuannya agar keturunan dan masyarakat tidak perlu bepergian jauh untuk berziarah.
Di Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, pengunjung bisa melihat langsung artefak megalitikum seperti dolmen, menhir, gerabah, dan kubur batu. Semua batuan tertata rapi di area taman yang asri.
Di dalam museum, tersedia replika manusia purba dan perkakas masa lampau. Catatan sejarah menyebut lokasi ini dulunya permukiman manusia purba dari zaman Neolitikum hingga Perunggu.
Tiket masuk hanya Rp2.000, dengan jam operasional pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB. Buku panduan tersedia seharga Rp3.000 untuk penjelasan lebih mendalam.
Gedung ini menjadi saksi bisu perundingan antara Indonesia dan Belanda pada 11-13 November 1946. Sebelum menjadi lokasi perundingan, bangunan ini awalnya gubuk milik warga lokal bernama Jasitem.
Bangunan direnovasi oleh warga Belanda, Mr. Jacob, pada 1930 menjadi hunian bergaya kolonial. Fungsinya beralih menjadi hotel pada 1935 hingga masa pendudukan Jepang.
Di dalam gedung, pengunjung bisa melihat meja, kursi, dan kamar tidur para delegasi yang masih asli. Dindingnya dihiasi foto dokumentasi sejarah autentik. Berlokasi di kaki Gunung Ciremai, udara sejuk dan pemandangan Taman Linggarjati menambah kenyamanan.
Tiket masuk Rp10.000 untuk dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak, dengan jam operasional pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB.