JAWA BARAT — Logam mulia Antam ukuran 1 gram dibanderol Rp2.711.000, naik Rp15.000 dari posisi hari sebelumnya. Harga buyback atau harga yang diterima saat menjual kembali emas juga ikut melonjak ke level Rp2.461.000 per gram.
Kenaikan harga emas Antam ini sejalan dengan pergerakan harga emas global yang terus menguat. Di pasar internasional, harga emas spot bertengger di level tertingginya dalam beberapa pekan terakhir, didorong oleh aksi buru aset safe haven.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih tertekan. Kurs rupiah berada di kisaran Rp16.250 per dolar AS, menambah beban biaya impor emas yang menjadi acuan harga Antam.
Bagi investor, kenaikan ini memberikan keuntungan unrealized gain. Namun, harga buyback yang lebih rendah dari harga jual membuat keuntungan baru benar-benar terwujud jika harga terus naik atau saat emas dijual di momen yang tepat.
Bagi masyarakat umum, terutama yang membeli emas untuk kebutuhan perhiasan atau tabungan jangka pendek, harga setinggi ini mulai memberatkan. Sejumlah pedagang emas di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mengaku omset penjualan menurun karena calon pembeli menahan diri.
Sepanjang tahun 2026, harga emas Antam sudah naik lebih dari 15 persen. Lonjakan ini menjadikan emas sebagai salah satu aset dengan performa terbaik di tengah volatilitas pasar saham dan obligasi.
Analis komoditas memperkirakan tren kenaikan masih akan berlanjut dalam jangka pendek, terutama jika tekanan inflasi global dan ketegangan geopolitik tidak mereda. Namun, investor tetap disarankan untuk tidak melakukan panic buying dan menyesuaikan porsi investasi emas dengan profil risiko masing-masing.