JAWA BARAT — Pertandingan semifinal yang digelar Kamis (17/10) itu berlangsung sengit sejak awal. Inggris yang bermain di bawah tekanan suporter tuan rumah berhasil mengamankan tempat di final setelah momen krusial di babak kedua. Afrika Selatan, yang tengah membangun perlawanan, harus kehilangan wicket kunci akibat kepiawaian Wyatt-Hodge di lapangan.
Sinalo Jafta, yang tengah berusaha mencuri single cepat, mendapati dirinya berada di sisi yang salah. Bola hasil pukulan meluncur ke arah cover, dan Wyatt-Hodge bereaksi dengan kecepatan kilat. Ia memungut bola, melempar ke arah stumps, dan mengenai sasaran langsung.
Komentator pun berteriak, "That is brilliant!" — sebuah pengakuan atas ketepatan dan ketenangan Wyatt-Hodge di momen genting. Jafta terpaksa berjalan kembali ke paviliun, dan Afrika Selatan kehilangan momentum kritis di pertengahan innings.
Kehilangan Jafta membuat Afrika Selatan kesulitan mengejar target yang sudah dibangun Inggris. Sebelum momen itu, Afrika Selatan masih dalam posisi kompetitif dengan beberapa wicket tersisa. Namun, run out tersebut memutus rantai kerja sama dan memaksa mereka bermain lebih defensif.
Inggris, di sisi lain, semakin percaya diri. Mereka menekan dengan fielding rapat dan bowling disiplin. Pada akhirnya, Inggris berhasil membatasi Afrika Selatan dan mengamankan kemenangan yang sudah di depan mata. Hasil ini sekaligus memastikan Inggris lolos ke final turnamen bergengsi tersebut.
Kemenangan ini tidak hanya berarti tiket final, tetapi juga membuktikan mentalitas juara Inggris. Mereka mampu tampil tenang di bawah tekanan dan memanfaatkan setiap kesalahan lawan. Pelatih Inggris dipastikan akan mempersiapkan tim secara maksimal untuk laga puncak nanti.
Sementara itu, bagi Afrika Selatan, kekalahan ini tentu menyakitkan. Mereka sudah tampil baik sepanjang turnamen, namun satu kesalahan fatal di lapangan menghancurkan mimpi mereka. Jafta dan rekan-rekannya harus pulang lebih awal dan menunggu kesempatan berikutnya.