JAWA BARAT — Harga minyak mentah berjangka AS (West Texas Intermediate/WTI) ditutup di level US$ 78,40 per barel pada Kamis (10/7), turun tajam dari posisi US$ 81,20 pada sesi sebelumnya. Penurunan ini terjadi setelah pernyataan Trump yang menyebut Iran menginginkan kesepakatan, meredam kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan akibat konflik bersenjata.
"Pasar sedang memfokuskan perhatian pada kemungkinan negosiasi, bukan pada eskalasi militer," ujar seorang analis komoditas di New York kepada Reuters. Dolar AS ikut melemah seiring turunnya harga minyak, yang meredakan ekspektasi inflasi tinggi.
Pelaku pasar juga mencermati risalah rapat Federal Reserve (The Fed) edisi Juni lalu. Dokumen tersebut menunjukkan para pembuat kebijakan masih terbelah soal arah suku bunga ke depan, meskipun sebagian besar anggota mengakui inflasi mulai mereda. Kondisi ini membuat investor wait-and-see terhadap keputusan The Fed pada pertemuan akhir Juli.
Di tengah volatilitas pasar global, BPI Danantara justru mencuri perhatian investor asing. Lembaga pengelola investasi negara itu terus memperkuat kemitraan strategis dengan berbagai pihak di tingkat internasional. Beberapa sumber menyebutkan minat investasi langsung (FDI) yang masuk melalui skema Danantara meningkat signifikan dalam dua pekan terakhir, khususnya dari dana pensiun dan sovereign wealth fund asing.
"Danantara dianggap sebagai pintu masuk yang aman untuk eksposur ke ekonomi Indonesia yang stabil," ungkap seorang pejabat Kementerian BUMN yang enggan disebut namanya. Kepercayaan ini diperkuat oleh proyeksi ADB yang mempertahankan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2% pada 2026, tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Vietnam.
PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina ini berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 429,25 miliar dari IPO. Dana tersebut akan digunakan untuk ekspansi konten digital dan produksi film, memperkuat posisinya sebagai rumah produksi terintegrasi di Indonesia.
RANS menjadi emiten ke-12 yang melantai di BEI sepanjang 2026, menambah optimisme pasar modal domestik yang tengah mencari katalis positif di tengah tekanan global.
Penurunan harga minyak dunia berpotensi menekan biaya impor energi Indonesia, yang selama ini menjadi beban subsidi BBM dan LPG. Jika tren ini berlanjut, pemerintah memiliki ruang fiskal lebih longgar untuk mengalokasikan belanja produktif. Namun, dampak langsung ke harga BBM di SPBU masih tergantung pada kebijakan harga acuan dan nilai tukar rupiah yang masih fluktuatif.