MAJALENGKA — Perum Perhutani Divre Janten tidak sekadar menyiagakan personel, tetapi juga mengubah fungsi kendaraan patroli menjadi alat pemadam darurat. Kepala Perhutani Divre Janten Yudha Suswardhanto mengatakan, modifikasi dilakukan dengan memasang bak air dan mesin penyemprot pada mobil Polhut.
"Kalau memasuki musim kemarau, kendaraan Polhut kami modifikasi dengan pemasangan bak air yang disiapkan dengan mesin penyemprot air," kata Yudha saat ditemui di Majalengka, Selasa.
Yudha menuturkan, ke-14 kendaraan tersebut disebar di setiap KPH yang berada di bawah naungan Perhutani Divre Janten. Armada ini difungsikan sebagai lini pertama pemadaman agar api tidak sempat meluas ke kawasan hutan.
"Ketika terdapat lokasi-lokasi yang masih bisa terjangkau dengan kendaraan, akan kita lakukan pemadaman dengan kendaraan tersebut," ujarnya.
Untuk mendukung pengendalian karhutla, Perhutani menyiagakan 180 personel yang bertugas memantau potensi kebakaran sejak fase awal di seluruh KPH. Mereka bekerja sama dengan masyarakat dan pemangku kepentingan setempat.
"Kami dengan kesiapan personel maupun struktur yang sudah setiap tahun dilaksanakan di 14 KPH, dengan 180 personel untuk memantau kondisi awal kejadian kebakaran hutan," kata Yudha.
Wakil Kepala Perhutani Divre Janten Agus Yulianto menambahkan, pemantauan titik api dilakukan secara rutin menggunakan aplikasi SiPongi dan Air Hotspot milik Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Area yang dipantau mencakup kawasan hutan Perhutani, Area Penggunaan Lain (APL), dan wilayah sekitarnya.
"Minimal tiga kali sehari, mulai dari kantor hingga lapangan, kami melakukan pemantauan. Kalau ada titik api langsung terdeteksi dan dilakukan respons cepat," kata Agus.
Selain kesiapan internal, Perhutani Divre Janten juga menjalin koordinasi dengan Polda Jawa Barat. Langkah ini bagian dari upaya pengendalian karhutla yang menjadi perhatian nasional, terutama saat musim kemarau tiba.