BANDUNG — Pertumbuhan ekspor Jawa Barat tidak merata di semua sektor, namun lonjakan signifikan pada golongan mesin dan peralatan mekanis menjadi motor utama penggerak kinerja perdagangan provinsi ini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat, nilai ekspor sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai USD 23,58 miliar, mengungguli impor yang hanya USD 6,95 miliar.
Kepala BPS Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati menyebutkan, ekspor migas mencatat pertumbuhan paling tajam secara persentase, yakni naik 16,85 persen menjadi USD 178,27 juta. Namun secara nilai, sektor nonmigas tetap mendominasi dengan kontribusi USD 23,40 miliar.
Data BPS menunjukkan golongan mesin dan peralatan mekanis menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar dengan tambahan nilai USD 418,86 juta. Lonjakan ini mengindikasikan pergeseran struktur ekspor Jawa Barat menuju produk bernilai tambah lebih tinggi.
Kondisi berbeda dialami industri karet dan barang dari karet. Sektor ini justru terkoreksi hingga USD 114,86 juta atau turun 12,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi destinasi, Amerika Serikat menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Jawa Barat dengan nilai tembus USD 3,98 miliar. Posisi berikutnya ditempati Filipina yang menyerap produk senilai USD 2,07 miliar, disusul Jepang dengan USD 1,69 miliar.
Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 33,09 persen dari total ekspor nonmigas Jawa Barat. Konsentrasi pasar ini menegaskan posisi strategis kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur bagi produk manufaktur Jawa Barat.
"Pertumbuhan ekspor terjadi di hampir seluruh sektor sepanjang Januari-Juli 2026," kata Margaretha. Dengan tren tersebut, optimisme terhadap kinerja perdagangan hingga akhir tahun diharapkan tetap stabil meski ada tekanan dari fluktuasi harga komoditas global.