JAWA BARAT — Marlon James tumbuh di Kingston pada 1980-an, tetapi ia tidak pernah mengalami kehidupan queer di sana. Ia menghabiskan masa mudanya di gereja, berusaha "mendoakan" orientasinya sendiri. Kini, setelah lama menetap di luar Jamaika, ia pulang bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menggali apa yang dulu ia hindari.
Dua perjalanan riset pada 2023 dan 2024 menjadi fondasi novel The Disappearers, karya yang masuk nominasi Booker Prize. James mewawancarai puluhan orang, dari Kingston hingga diaspora Jamaika di New Orleans, Toronto, dan Montreal.
Bagi James, menulis novel berarti memahami kehidupan tokoh-tokohnya jauh sebelum cerita dimulai. Ia menelusuri era 1940-an hingga awal 2000-an, meski sebagian besar hasil risetnya tidak masuk langsung ke dalam buku.
Metodenya sederhana: bertanya kepada teman-teman queer lokal, lalu membiarkan informasi menyebar dari mulut ke mulut. Karena ini novel, bukan dokumenter, banyak narasumber justru terbuka bercerita tentang hidup mereka.
Salah satu temuan yang paling mengejutkan James adalah fakta bahwa Kingston pernah punya lima bar gay yang beroperasi bersamaan. Nama-namanya terdengar flamboyan: Fanny Hill, Marshall's, The Closet, The Interim Closet, dan Andante.
Dua bar bahkan sama-sama bernama Marshall's setelah para pemiliknya berselisih dan menolak melepas nama tersebut. The Closet pun mengalami hal serupa, memunculkan The Interim Closet. Andante adalah bar jazz yang setiap pukul 21.00 menampilkan pertunjukan drag queen, disaksikan selebritas hingga saudara perdana menteri.
Semua tempat itu lenyap pada akhir 1980-an dan 1990-an. Krisis AIDS memicu lonjakan homofobia di Jamaika, negara religius tempat khotbah pendeta dianggap kebenaran. AIDS disebut sebagai hukuman Tuhan. Kehidupan malam queer pun masuk bawah tanah.
Dari narasumber senior, James belajar bahwa mereka sebenarnya hanya ingin kembali ke kondisi Jamaika tahun 1972. Ia menyebut seorang pria berusia sekitar 90 tahun, yang diyakini sebagai gay tertua di Jamaika saat ini, pemilik resor seniman Mountambrin.
Mountambrin berada sekitar satu jam dari Montego Bay. Awalnya hotel khusus untuk tamu queer, lalu dibuka untuk umum karena kebutuhan tamu dan biaya. Kini tempat itu menerima siapa saja, lengkap dengan koleksi patung dan karya seni bertema tubuh pria.
Fakta bahwa komunitas queer tetap tinggal di Jamaika, kata James, menunjukkan adanya harapan baru. Sebelumnya, banyak orang queer dan trans harus pergi demi bertahan hidup.
Di almamaternya, University of the West Indies, James menemui asosiasi mahasiswa queer yang keberadaannya membuatnya kaget. Ia sempat menyampaikan pidato "it gets better", tetapi para mahasiswa menolaknya. Mereka lebih memilih berdebat soal Beyoncé atau Rihanna ketimbang ketakutan akan keselamatan.
Seorang narasumber muncul dengan ekstensi rambut pink dan jumpsuit pink. Ketika ditanya mau ke mana, ia menjawab baru turun dari bus. James mengaku menyukai sikap itu, meski ia menolak melukiskan gambaran terlalu cerah.
Ia juga berbicara dengan sejumlah lesbian yang mengaku diancam pemerkosaan setiap pekan. Organisasi seperti Jamaica Forum for Lesbians, All-Sexuals and Gays, yang kini bernama Equality for All, masih ada karena perjuangan belum selesai.
Tinggal di Jamaika berarti berhadapan langsung dengan sejarah yang ada di sekeliling. Namun melacaknya tidak mudah. James sudah bertahun-tahun mencari satu saja rekaman pesta drag ball di Jamaika, dan belum menemukannya.
Ia menduga rekaman itu ada, mungkin tersimpan dalam koleksi besar milik pemilik Mountambrin. Generasi sebelumnya kerap memusnahkan bukti demi keamanan, dan jejak itulah yang kini hilang.
The Disappearers berangkat dari peristiwa gay bashing yang James ketahui, lalu berkembang menjadi kisah bertahan hidup melintasi dekade-dekade penuh tekanan di Jamaika.