Fenomena FOMO Nongkrong di SCBD Meningkat, Didorong Tekanan Sosial Ibu Kota

Penulis: Candra Setiabudi  •  Kamis, 17 September 2026 | 10:37:31 WIB

JAWA BARAT — Budaya nongkrong di kawasan SCBD Jakarta makin marak di kalangan anak muda, dipicu oleh tekanan sosial dan paparan media sosial yang terus-menerus. Artikel ini mengulas penyebab, dampak psikologis, serta cara bijak mengelola FOMO agar kesehatan mental tetap terjaga di tengah ritme ibu kota.

Kawasan SCBD Jakarta menjadi magnet baru bagi anak muda yang ingin terlihat "hadir" di pusat gaya hidup kota. Kafe estetik, kehidupan malam, dan unggahan media sosial menciptakan panggung tekanan sosial yang tak kasat mata.

Fenomena ini dikenal sebagai fear of missing out (FOMO), yakni rasa cemas atau takut tertinggal dari pengalaman dan momen yang dinikmati orang lain. Kondisi ini diperparah oleh unggahan media sosial yang menampilkan kehidupan seolah sempurna.

Apa Itu FOMO dan Mengapa Anak Muda Rentan Mengalaminya

Menurut Przybylski (2013: 1481), FOMO adalah kondisi gelisah setelah melihat atau mengecek media sosial dan menyaksikan aktivitas menyenangkan orang lain, disertai keinginan besar untuk tetap terhubung dengan apa yang mereka lakukan di internet.

Media sosial memperkuat FOMO melalui penyebaran standar kecantikan yang ideal dan seringkali tidak realistis. "Platform media sosial dibanjiri dengan profil yang 'dikurasi dengan cermat,' menampilkan kehidupan yang tampak sempurna, penampilan tanpa cela, dan tubuh ideal," ujar Acosta.

Paparan konstan terhadap citra sempurna ini membuat kaum muda mengembangkan ekspektasi tidak realistis tentang penampilan dan pencapaian hidup mereka sendiri.

Perbandingan Sosial dan Risiko Gangguan Kesehatan Mental

Membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang telah difilter di media sosial dapat meningkatkan risiko kecemasan, depresi, dan citra tubuh yang negatif. Remaja dan dewasa muda menghadapi risiko lebih tinggi karena media sosial memengaruhi pembentukan identitas serta kebutuhan akan rasa memiliki dan penerimaan.

Sebuah studi terhadap remaja Amerika berusia 12-15 tahun menunjukkan bahwa mereka yang menggunakan media sosial lebih dari tiga jam setiap hari berisiko dua kali lipat mengalami masalah kesehatan mental, termasuk gejala depresi dan kecemasan.

Mengapa SCBD Jadi Panggung Tekanan Sosial

Ibu kota menghadirkan tekanan hidup lebih tinggi dibanding daerah pedesaan atau kota kecil. Kepadatan penduduk, persaingan ketat, dan tuntutan mengikuti gaya hidup modern berkontribusi pada tingkat stres yang tinggi.

Dalam konteks ini, nongkrong di tempat seperti SCBD bukan lagi sekadar aktivitas santai. Kegiatan ini menjadi bagian dari gaya hidup untuk menunjukkan diri dan memperoleh status sosial.

Kafe berfungsi sebagai "tempat ketiga" di luar rumah dan tempat kerja, tempat individu merasa memiliki tanpa kewajiban interaksi mendalam. Namun di balik kenyamanan itu, ada tekanan untuk selalu tampil dan mengikuti tren.

Penelitian menunjukkan budaya nongkrong diperkuat platform media sosial. Tekanan memamerkan momen dan harta benda melalui cerita serta unggahan di platform seperti Instagram memperkuat keinginan mendapatkan status, yang kemudian memicu perilaku konsumtif tidak sehat.

Dampak Psikologis FOMO yang Perlu Diwaspadai

Individu yang mengalami FOMO cenderung merasa tidak puas dengan diri sendiri, mudah cemas, dan sulit merasa bahagia dengan keadaan saat ini. Perasaan takut tertinggal membuat seseorang terus memeriksa ponsel dan khawatir melewatkan informasi terbaru.

Kebiasaan ini dapat mengganggu konsentrasi, kualitas tidur, dan produktivitas. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut meningkatkan risiko stres kronis dan kelelahan emosional.

Cara Bijak Mengelola FOMO di Tengah Tekanan Ibu Kota

Untuk menjaga kesehatan mental, penting menyadari dan mengelola FOMO dengan bijak. Para ahli menyarankan beberapa langkah berikut:

  • Batasi waktu layar, terutama saat sedang merasa cemas atau membandingkan diri.
  • Fokus pada pengalaman otentik yang sesuai nilai pribadi, bukan sekadar tren.
  • Bangun koneksi sosial yang kuat di dunia nyata, bukan hanya interaksi digital.
  • Kembangkan self-compassion atau welas asih pada diri sendiri.

Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional

Jika rasa cemas, sedih, atau tidak puas diri berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas harian, jangan ragu mencari bantuan psikolog atau konselor. Deteksi dini membantu mencegah dampak yang lebih serius.

Nongkrong di SCBD atau tempat populer lain sebenarnya sah-sah saja selama dilakukan dengan kesadaran penuh, bukan karena tekanan sosial. Kuncinya adalah mengenali batas diri dan memastikan setiap pilihan datang dari kebutuhan, bukan sekadar takut tertinggal.

Reporter: Candra Setiabudi
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top