JAWA BARAT — Xiaomi memastikan mobil listriknya akan masuk Indonesia dengan probabilitas 100 persen, meski belum ada tanggal pasti peluncurannya. Country Director Xiaomi Indonesia menyebut pihaknya masih menunggu momen tepat, sementara ekspansi global dimulai dari Eropa pada kuartal ketiga 2027.
Kepastian itu disampaikan langsung oleh Country Director Xiaomi Indonesia, Michael Feng, dalam konferensi pers usai peluncuran Redmi Note 17 Series di Jakarta. Ia menegaskan Indonesia masuk dalam rencana ekspansi kendaraan listrik Xiaomi, tetapi perusahaan memilih menunggu waktu yang tepat sebelum benar-benar masuk ke pasar lokal.
Michael tidak menyebut kapan persisnya mobil listrik Xiaomi akan dijual di Indonesia. Yang jelas, ia menyatakan komitmen perusahaan terhadap pasar Tanah Air sudah bulat.
"Jadi untuk pertanyaan ini, 100 persen kami akan membawa produk mobil (listrik) ke pasar ini. Namun saat ini jika boleh jujur kita masih harus menunggu," kata Michael dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip dari Antaranews, Jumat (18/9).
Pernyataan itu menjawab keraguan yang muncul sejak Xiaomi pertama kali terjun ke industri otomotif pada akhir 2023. Sejak saat itu, nama Xiaomi SU7 dan varian lanjutannya seperti SU7 Ultra serta YU7 terus menjadi perbincangan di kalangan penggemar otomotif Indonesia.
Xiaomi tidak langsung menyerbu banyak negara sekaligus. Perusahaan sedang menyiapkan ekspansi bisnis mobil listrik ke pasar global, dan Eropa menjadi wilayah pertama yang dituju.
Jerman disebut sebagai salah satu pasar awal yang akan dimasuki. Xiaomi dijadwalkan mulai masuk ke negara tersebut pada kuartal ketiga 2027 melalui kerja sama dengan dealer kendaraan setempat.
Setelah memperkuat bisnis mobil listriknya di China, langkah ke Eropa ini berfungsi sebagai uji pasar. Xiaomi ingin melihat respons konsumen di luar China sebelum memperluas penjualan ke negara lain, termasuk Indonesia.
"Di Indonesia kami masih harus menunggu. Tapi saya rasa kami akan hadirkan segera karena Indonesia sangat penting bagi Xiaomi di pasar global jadi jangan khawatir," ujar Michael.
Ada beberapa catatan yang perlu pembaca cermati sebelum terlalu bersemangat menunggu mobil listrik Xiaomi di Indonesia.
Jika benar masuk Indonesia, Xiaomi tidak akan bergerak di ruang kosong. Pasar mobil listrik lokal sudah diisi sejumlah merek China lain seperti BYD, Wuling, dan Chery, plus pemain lama seperti Hyundai dan Tesla di segmen premium.
Xiaomi punya modal reputasi sebagai produsen elektronik konsumen dengan basis pengguna besar di Indonesia. Namun membangun kepercayaan di sektor otomotif butuh lebih dari sekadar nama besar di ponsel, terutama soal layanan purna jual dan ketersediaan suku cadang.
Model yang kemungkinan dibawa ke pasar global adalah jajaran yang sudah dijual di China, mencakup SU7, SU7 Ultra, dan YU7. Belum ada konfirmasi model mana yang akan diprioritaskan untuk Indonesia.
Pernyataan Michael Feng menegaskan satu hal: Indonesia bukan sekadar wacana bagi Xiaomi. Tapi pembaca yang berencana menunda pembelian mobil listrik demi menunggu Xiaomi sebaiknya bersabar, karena timeline realistisnya masih beberapa tahun ke depan, mengikuti jejak ekspansi Eropa yang baru mulai 2027.
Untuk saat ini, informasi yang tersedia masih sebatas niat dan arah ekspansi. Harga, spesifikasi, dan tanggal pasti belum ada, sehingga terlalu dini menyimpulkan mobil listrik Xiaomi akan menjadi pilihan terbaik di kelasnya begitu tiba di Indonesia.