Bupati Bogor Rudy Susmanto Ajak Pegiat Lingkungan Perkuat Kolaborasi Wujudkan Kabupaten Bersih dan Berkelanjutan

Penulis: Candra Setiabudi  •  Selasa, 02 Juni 2026 | 13:51:53 WIB
Bupati Bogor Rudy Susmanto berdiskusi dengan pegiat lingkungan di Pendopo Bupati untuk perkuat kolaborasi.

CIBINONG — Bupati Bogor Rudy Susmanto duduk satu meja dengan puluhan pegiat lingkungan dari berbagai kecamatan. Mereka tergabung dalam Forum Kampung Ramah Lingkungan. Pertemuan berlangsung di Pendopo Bupati Bogor, menjadi ajang saling tukar gagasan soal pengelolaan sampah dan pelestarian alam di tingkat akar rumput.

Rudy menekankan bahwa persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan sendiri oleh pemerintah. Dibutuhkan partisipasi aktif dari komunitas dan warga. “Kolaborasi ini penting agar program-program lingkungan berjalan berkelanjutan, bukan hanya seremonial,” ujarnya di hadapan para peserta.

Apa Peran Forum Kampung Ramah Lingkungan?

Forum Kampung Ramah Lingkungan merupakan wadah bagi pegiat lingkungan di tingkat desa dan kelurahan. Mereka aktif mengelola bank sampah, menghijaukan lahan kritis, dan mengedukasi warga tentang pengelolaan limbah rumah tangga. Selama ini, forum ini bergerak secara sporadis tanpa koordinasi yang kuat dengan pemkab.

Rudy berharap forum ini bisa menjadi mitra strategis pemerintah. “Saya ingin mendengar langsung apa kendala di lapangan. Jangan sampai program pusat tidak nyambung dengan kebutuhan warga,” tambahnya.

Langkah Konkret yang Segera Dijalankan

Dalam diskusi tersebut, Rudy menyampaikan sejumlah langkah awal yang akan diambil. Pertama, pemkab akan menyediakan anggaran pendamping untuk kegiatan bank sampah di setiap kecamatan. Kedua, pelatihan pengelolaan sampah organik akan diperluas ke 40 desa pada tahun ini.

Selain itu, pemkab berencana membentuk tim monitoring bersama antara dinas lingkungan hidup dan perwakilan forum. Tujuannya, memastikan setiap program berjalan sesuai target dan tidak tumpang tindih.

Mengapa Kolaborasi Ini Mendesak?

Volume sampah di Kabupaten Bogor terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di beberapa wilayah mulai over kapasitas. Rudy menilai, tanpa keterlibatan warga secara langsung, penanganan sampah akan menjadi beban berat bagi APBD.

Ia mencontohkan keberhasilan beberapa kampung yang berhasil mengurangi sampah hingga 40 persen hanya dengan memilah dari rumah. “Ini yang ingin kita replikasi ke seluruh desa,” kata Rudy.

Apa Kendala di Lapangan?

Para pegiat yang hadir menyampaikan sejumlah kendala. Mulai dari minimnya armada pengangkut sampah, kurangnya sosialisasi pemilahan, hingga rendahnya partisipasi warga di beberapa titik. Mereka berharap pemkab tidak hanya turun tangan saat ada acara atau lomba kebersihan.

Rudy menanggapi setiap masukan dengan catatan. Ia meminta dinas terkait untuk segera menjadwalkan kunjungan lapangan ke desa-desa yang paling rawan sampah. “Saya minta dalam sebulan ini ada laporan teknis dari setiap kecamatan,” tegasnya.

Bagaimana warga bisa bergabung dengan Forum Kampung Ramah Lingkungan?

Warga yang ingin bergabung cukup menghubungi pengurus forum di masing-masing kecamatan atau datang langsung ke kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor. Forum ini terbuka untuk semua kalangan, termasuk ibu rumah tangga, pemuda, dan pelajar.

Kapan program pelatihan pengelolaan sampah dimulai?

Pelatihan tahap pertama direncanakan dimulai pada Maret 2026. Target awal adalah 20 desa di wilayah utara dan timur Kabupaten Bogor. Jadwal dan lokasi akan diumumkan melalui kanal resmi pemkab dan pengurus forum.

Apa target utama kolaborasi ini?

Target jangka pendeknya adalah mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA sebesar 15 persen dalam setahun. Target jangka panjang, menjadikan Kabupaten Bogor sebagai daerah percontohan pengelolaan lingkungan berbasis komunitas di Jawa Barat.

Reporter: Candra Setiabudi
Sumber: radarbogor.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top