CIREBON — Wali Kota Cirebon Effendi Edo mengatakan simulasi ini penting untuk mengasah kembali kemampuan petugas gabungan menangani berbagai kemungkinan bencana akibat cuaca kering. "Ini juga kita lakukan simulasi untuk melatih lagi, karena sekarang musim kemarau," ujar Effendi Edo di Cirebon, Selasa.
Puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang. Karena itu, potensi kebakaran yang membutuhkan penanganan cepat harus diantisipasi sejak dini.
Argasunya Jadi Prioritas Penanganan Kekeringan
Pemkot Cirebon telah memetakan wilayah yang rawan kekeringan. Kelurahan Argasunya di Kecamatan Harjamukti menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian khusus. Sejumlah langkah kesiapsiagaan telah disiapkan di wilayah tersebut untuk memastikan kebutuhan warga bisa segera ditangani.
"Kita sudah standby-kan beberapa hal di sana untuk bisa menangani bencana tersebut," kata Effendi Edo. Untuk kebutuhan air bersih, pihaknya rutin menyalurkan air kepada masyarakat secara berkala, menyesuaikan kebutuhan warga di wilayah terdampak.
Kebakaran Lahan dan Penguatan Kelembagaan BPBD
Selain kekeringan, kebakaran lahan juga menjadi perhatian. Kondisi cuaca kering meningkatkan risiko kebakaran, terutama di wilayah dengan lahan terbuka. Effendi Edo menyebut kebakaran lahan skala kecil sempat terjadi, namun bisa ditangani cepat berkat kesiapsiagaan BPBD, pemadam kebakaran, dan unsur terkait.
Penanggulangan bencana disebutnya membutuhkan kerja sama lintas tingkatan pemerintahan agar penanganan terpadu sesuai kebutuhan lapangan. "Kolaborasi ini tentunya satu kerja yang baik dan saling menunjang antara kota, provinsi, dan pusat," ujarnya.
Di sisi lain, Pemkot Cirebon tengah mendorong peningkatan kelembagaan BPBD Kota Cirebon. Targetnya, badan ini naik kelas menjadi perangkat daerah eselon II pada Desember 2026. "Mudah-mudahan Desember ini sudah jadi Eselon II, naik kelas," tutup Effendi Edo.