BANDUNG — Tuntutan penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi fokus utama aksi demonstrasi mahasiswa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Senin (17/2/2025). Massa yang terdiri dari elemen Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Bandung Raya ini menilai program MBG tidak tepat sasaran dan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di saat daya beli masyarakat sedang tertekan.
Dalam orasinya, koordinator aksi menyebutkan bahwa alokasi dana triliunan rupiah untuk MBG lebih baik dialihkan untuk subsidi langsung yang menyasar kelompok rentan. “Kami tidak menolak program pangan secara prinsip, tapi di tengah krisis nilai tukar dan harga kebutuhan pokok yang naik, prioritas anggaran harus dikoreksi,” ujar Koordinator BEM Universitas Padjadjaran, Rizky Pratama, di atas panggung aksi.
Selain soal MBG, massa juga menyoroti pelemahan rupiah yang dinilai belum tertangani secara serius. Mereka mendesak DPRD Jabar untuk mendorong pemerintah pusat dan Bank Indonesia mengambil langkah terukur, seperti memperkuat cadangan devisa dan menekan impor barang konsumsi. “Rupiah yang terus melemah membuat harga barang melonjak, sementara upah minimum tidak bergerak signifikan,” tambah Rizky.
Demonstrasi berlangsung tertib dengan pengawalan ketat aparat kepolisian. Massa yang membawa spanduk bertuliskan “Hentikan MBG, Selamatkan Rakyat” dan “Stabilkan Rupiah, Jangan Hanya Janji” bertahan hingga sore hari. Perwakilan DPRD Jabar yang menemui massa menyatakan akan menampung aspirasi tersebut dan membahasnya dalam rapat komisi terkait pekan ini.
Belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat atau DPRD Jabar mengenai tindak lanjut tuntutan mahasiswa. Aksi serupa direncanakan kembali digelar jika tidak ada respons kebijakan dalam waktu dekat.