Pawai Obor Sambut 1 Muharram 1448 H di Tasikmalaya: Ribuan Warga 3 Dusun Bergerak Tanpa Instruksi Pemerintah

Penulis: Darmawan Putra  •  Senin, 15 Juni 2026 | 21:35:01 WIB
Ribuan warga tiga dusun di Tasikmalaya menggelar pawai obor menyambut 1 Muharram 1448 H secara swadaya.

TASIKMALAYA — Malam baru saja turun ketika suara takbir dan shalawat mulai menggema dari berbagai penjuru Kampung Linggaraja. Selepas salat Isya, ribuan warga berduyun-duyun keluar rumah membawa obor bambu yang menyala terang. Mereka bergerak dari kampung masing-masing menuju Lapangan Malaganti, pusat kegiatan warga yang berjarak sekitar 500 meter dari Balai Desa Linggaraja.

Tanpa Panggung Megah, Tanpa Artis Ibu Kota

Malam itu tidak ada panggung besar dengan tata cahaya spektakuler. Tidak ada pula pesta kembang api yang menghiasi langit. Sebagai gantinya, ribuan titik api dari obor bambu membentuk lautan cahaya yang bergerak perlahan di sepanjang jalan kampung.

Hiburan warga malam itu hanyalah lantunan shalawat hadrah dengan peralatan sederhana. Sebagian warga membawa nasi tumpeng untuk disantap bersama. Semua perlengkapan, mulai dari obor bambu hingga bahan bakar, disiapkan secara swadaya oleh masyarakat.

Informasi Cukup dari Ajengan dan Pengurus Masjid

Tidak ada undangan resmi yang beredar. Tidak ada pengeras suara canggih yang memanggil warga satu per satu. Informasi cukup disampaikan oleh para ajengan dan pengurus masjid di kampung masing-masing. Namun ketika malam Muharram tiba, masyarakat seolah sudah memahami apa yang harus dilakukan.

“Mereka datang dengan persiapan sederhana. Semua dilakukan secara swadaya,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.

Momentum Spiritual di Tengah Arus Modernisasi

Di tengah arus modernisasi yang perlahan mengikis berbagai tradisi pedesaan, cahaya obor bambu di Linggaraja tetap menyala. Masyarakat dari 20 DKM yang tersebar di tiga dusun tampak antusias mengikuti Pawai Taaruf. Anak-anak, remaja, orang tua hingga lansia berjalan bersama membawa obor bambu.

Malam itu warga lebih memilih bermunajat. Mereka mengikuti istighasah dan doa bersama yang dipimpin para ajengan serta tokoh agama desa. Kehadiran Camat Sukaraja di tengah masyarakat menjadi warna tersendiri, meski kemeriahan acara sejatinya lahir dari semangat warga itu sendiri.

Tradisi yang Tumbuh dari Kesadaran Kolektif

Tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Linggaraja. Sebuah kebiasaan yang tumbuh bukan karena instruksi pemerintah, melainkan karena kesadaran kolektif yang diwariskan turun-temurun. Bagi warga setempat, pergantian tahun baru Islam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, melainkan momentum spiritual yang terus diwariskan lintas generasi.

Reporter: Darmawan Putra
Sumber: jabarekspres.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top