JAWA BARAT — Korban meninggal dilaporkan dari Kabupaten Sigi, wilayah yang menanggung dampak paling signifikan. Di daerah itu, BNPB mencatat 89 KK atau 272 jiwa terdampak, 22 warga luka ringan, dan 13 luka berat. Sementara itu, Kabupaten Parigi Moutong mencatat 21 KK terdampak, dan Kota Palu melaporkan dua warga luka ringan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyatakan data sementara hingga pukul 19.00 WITA menunjukkan 67 unit rumah terdampak. Rinciannya, 26 unit rusak ringan, enam rusak sedang, dan 12 rusak berat.
“Di Kabupaten Sigi juga tercatat enam fasilitas ibadah terdampak, dua gedung perkantoran terdampak, satu jembatan terdampak, serta satu unit UMKM mengalami kerusakan,” kata Abdul dalam keterangan tertulis, Rabu (17/6).
Selain rumah warga, gempa juga merusak dua jembatan, satu fasilitas umum, dua gedung perkantoran, tiga tempat usaha, dan satu ruas jalan provinsi yang menghubungkan Palu, Sigi, dan Poso yang mengalami amblas. Di Kota Palu, keretakan terjadi pada Jembatan III serta satu hotel dan satu tempat usaha ikut rusak.
Pemerintah Kabupaten Sigi tengah memproses penetapan status tanggap darurat selama 14 hari. Untuk mempercepat koordinasi, pos lapangan dipusatkan di Kantor Camat Nokilalaki.
“Pos lapangan telah diaktifkan untuk mempermudah koordinasi lintas sektor, distribusi bantuan, serta pelayanan kepada masyarakat terdampak,” ujar Abdul.
Di Kabupaten Poso, BPBD bersama pemerintah daerah mendirikan tenda darurat di lingkungan RSUD Kabupaten Poso untuk mendukung pelayanan kesehatan. Warga bersama aparat kepolisian juga mulai membersihkan puing-puing bangunan yang rusak.
Abdul menegaskan prioritas saat ini adalah keselamatan warga, penanganan korban, pendataan kerusakan, dan memastikan layanan dasar tetap berjalan. BNPB mengingatkan aktivitas gempa susulan masih terus terjadi hingga sore hari.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, serta mengikuti arahan dari petugas dan informasi resmi dari pemerintah maupun BMKG,” kata Abdul.
BNPB memastikan akan terus memantau perkembangan situasi dan menyampaikan pembaruan data secara berkala seiring proses verifikasi di lapangan yang masih berlangsung.