Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Prioritaskan Bangun Masjid Kecil untuk Jamaah Aktif, Bukan Sarana Selfie

Penulis: Zulfikar Ahmad  •  Jumat, 19 Juni 2026 | 20:12:31 WIB
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi fokus bangun masjid kecil untuk jamaah aktif di lingkungan permukiman.

BANDUNGGubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan program prioritas pembangunan masjid di daerahnya akan menyasar bangunan berukuran kecil yang benar-benar memiliki jamaah aktif. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap fenomena pergeseran fungsi masjid megah yang dinilai lebih banyak dijadikan tempat rekreasi ketimbang sarana spiritualitas.

Pernyataan tersebut disampaikan KDM—sapaan akrab Dedi Mulyadi—saat menghadiri peringatan Hari Besar Islam Muharram 1448 Hijriyah di Masjid Raya Al-Jabbar, Selasa (9/6) lalu. Menurutnya, sudah banyak masjid megah berdiri di Jawa Barat, namun yang dibutuhkan warga justru tempat ibadah yang mudah diakses setiap saat di lingkungan permukiman.

Bukan Soal Megah, Tapi Keberadaan Jamaah

"Kami ingin membangun masjid-masjid kecil di lingkungan masyarakat yang membutuhkannya dalam setiap waktu. Kan kalau masjid-masjid yang megah sudah banyak di Jawa Barat," ujar KDM dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat (19/6/2026).

KDM menegaskan, pembangunan tajuk ini akan dilakukan secara bertahap dan terintegrasi dengan bantuan berbagai pihak. Ia memastikan masjid-masjid kecil yang dibangun nantinya tidak memerlukan pembentukan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) baru, melainkan cukup mengoptimalkan pengelolaan yang sudah ada.

"Kami ingin membangun masjid yang ada jamaahnya, tempat anak-anak ngaji, tempat ibadah rakyat di situ," imbuhnya.

Kritik Terhadap Masjid yang Berubah Jadi Tempat Selfie

Dalam kesempatan yang sama, KDM menyoroti fenomena masjid yang kini kerap dijadikan latar berfoto atau tempat rekreasi. Ia menilai hal itu telah menggeser esensi utama masjid sebagai tempat membangun hubungan spiritual antara manusia dengan Sang Pencipta.

"Kalau masjid sarana rekreasi bukan sarana spiritualitas, maka masjid hanya akan menjadi tempat selfie, bukan tempat tafakur," tegasnya.

Menurut KDM, esensi ibadah tidak ditentukan oleh kemegahan bangunan. Ia mencontohkan, bertafakur bisa dilakukan di mana saja, seperti di kamar tidur, surau kecil, bawah pohon, tepi sawah, hingga pinggir gunung.

"Tempat tak ada makna, yang paling utama adalah keheningan jiwa untuk mampu menghadirkan Tuhan dalam relung jiwa," pungkas KDM.

Reporter: Zulfikar Ahmad
Sumber: news.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top