JAWA BARAT — Lionel Messi dan kawan-kawan akan berduel dengan Swiss pada laga yang menentukan lawan semifinalis nanti, yakni Inggris atau Norwegia. Jalan Argentina di turnamen ini—melewati Aljazair, Austria, Yordania, Cape Verde, dan Mesir—dianggap sebagai rute paling ringan dibandingkan Spanyol, Prancis, atau Inggris.
Namun, Argentina justru tampil tersendat. Dua laga terakhir melawan Cape Verde dan Mesir berakhir dramatis dan nyaris berujung petaka. Tim asuhan Lionel Scaloni seolah kesulitan menjawab ekspektasi sebagai juara bertahan.
Swiss datang sebagai tim disiplin yang dibangun untuk tekanan tinggi. Mereka tidak memiliki bintang sebesar Messi, justru itu bisa menjadi senjata: tanpa beban ekspektasi, mereka leluasa bermain lepas. Argentina dinilai tidak akan membiarkan tren buruk berlanjut terlalu lama.
"Mereka akan bertarung gagah berani, tetapi ini akan menjadi laga knockout pertama yang dimenangkan Argentina tanpa kontroversi atau perjuangan," tulis prediksi dari sumber. "Dan tentu saja, orang yang memimpin itu adalah Messi."
Lionel Messi masih menjadi fokus utama serangan Argentina. Namun, ketergantungan berlebihan pada nomor 10 justru disebut sebagai kelemahan. "Dengan mencari Messi di setiap momen dan bertingkah seolah permainan hanya ditentukan oleh performanya, tim ini jadi rentan," demikian analisis yang beredar.
Di sisi lain, Kylian Mbappe—yang disebut sebagai pemain terhebat dalam sejarah Piala Dunia—mengintip dari belakang dalam perburuan Sepatu Emas. Jika Argentina lolos, Messi berpeluang kembali bertemu Prancis di final, asal bisa melewati Swiss dan kemudian Inggris atau Norwegia.
Laga ini akan digelar di stadion netral dengan tensi tinggi. Swiss diyakini akan bertahan rapat dan mengandalkan serangan balik cepat, tetapi kualitas individu Argentina—khususnya Messi—diprediksi menjadi pembeda. Kemenangan 2-0 tanpa drama bakal menjadi pernyataan pertama Argentina bahwa mereka masih layak disebut kandidat juara.