Harga Bawang Merah dan Cabai di Jabar Turun Picu Deflasi 0,05 Persen pada Juli 2026

Penulis: Bayu Nugroho  •  Selasa, 04 Agustus 2026 | 13:34:32 WIB
Petugas menunjukkan bawang merah dan cabai di pasar tradisional Bandung, Jawa Barat, Senin (3/8/2026).

BANDUNG — Tekanan inflasi di Jawa Barat mereda sepanjang Juli 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mengumumkan provinsi ini mengalami deflasi 0,05 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m), berbalik dari tren kenaikan harga pada bulan-bulan sebelumnya.

Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menyebut penurunan harga komoditas pangan pokok menjadi penopang utama deflasi. Bawang merah mencatat andil deflasi terbesar, disusul cabai merah, emas perhiasan, cabai rawit, dan telur ayam ras.

Pasokan Melimpah dari Bandung dan Garut

Margaretha menjelaskan, deflasi terjadi karena meningkatnya pasokan hasil panen dari sejumlah daerah penghasil. Panen bawang merah di Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut, serta wilayah produsen di luar Jawa Barat turut memperkuat ketersediaan barang di pasar.

"Deflasi juga disebabkan oleh penurunan permintaan daging ayam dan telur ayam ras selama periode libur sekolah karena tidak berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG)," kata Margaretha saat acara Rilis Berita Resmi Statistik Provinsi Jawa Barat, Senin (3/8/2026).

Bensin dan Biaya Sekolah Masih Tekan Inflasi

Meski secara umum terjadi penurunan harga, sejumlah komoditas masih memicu inflasi bulanan. BPS mencatat bensin, ketimun, biaya sekolah dasar, bawang putih, dan mobil menjadi penyumbang kenaikan indeks harga pada Juli 2026.

Kondisi berbeda justru terlihat pada kinerja tahunan. Secara year on year (y-on-y), Jawa Barat masih mengalami inflasi sebesar 2,72 persen. Emas perhiasan, bensin, minyak goreng, beras, dan cigaret kretek mesin menjadi komoditas yang memberi andil inflasi terbesar secara tahunan.

Neraca Dagang Jabar Surplus USD13,79 Miliar

Dalam kesempatan yang sama, BPS Jawa Barat turut merilis kinerja perdagangan luar negeri yang tetap menunjukkan tren positif. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, Jawa Barat membukukan surplus neraca perdagangan sebesar USD13,79 miliar.

Nilai ekspor Jabar pada periode tersebut mencapai USD19,60 miliar, lebih tinggi dibandingkan impor yang tercatat sebesar USD5,81 miliar. Capaian ini meningkat 5,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menandakan permintaan produk manufaktur dari pasar global masih kuat.

Reporter: Bayu Nugroho
Sumber: radartasik.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top