Ribuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jawa Barat tengah didorong untuk memutus belenggu psikologis berupa ketakutan merugi sebelum mencoba, sebuah hambatan internal yang dinilai membuat produk lokal sulit naik kelas. Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman menegaskan bahwa keberanian mengambil risiko adalah syarat mutlak bagi pelaku UMKM untuk menembus pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional.
BANDUNG — Pemprov Jawa Barat menggandeng Forum Komunikasi Tionghoa Merah Putih (FOKTI) untuk memfasilitasi pendampingan sertifikasi halal bagi 1.000 UMKM mikro dan kecil. Langkah ini diambil untuk meningkatkan daya saing produk lokal sekaligus menjawab kebutuhan legalitas pasar modern.
Herman menilai persoalan terbesar UMKM saat ini bukanlah modal atau akses pasar, melainkan pola pikir yang terlalu cepat merasa takut. "Tidak ada alasan pokoknya semua UMKM harus naik kelas, dan itu mulai dari pikiran. Mulai dari pikiran, sesederhana itu. Persoalannya belum apa-apa kita semuanya sudah takut. Takut enggak laku, takut rugi, takut ditolak. Itu yang membuat UMKM sulit naik kelas," ujarnya di Bandung, Kamis.
Pendampingan yang diinisiasi FOKTI bersama pemangku kepentingan daerah di Kota Bandung ini berlangsung pada Rabu (2/9). Program tersebut menyasar pelaku usaha mikro yang selama ini terkendala biaya dan administrasi dalam mengurus kehalalan produknya.
Padahal, sertifikasi halal bukan sekadar label keagamaan. Di pasar ritel modern hingga platform ekspor, dokumen ini menjadi prasyarat utama sebuah produk bisa diterima. Tanpa legalitas tersebut, produk UMKM akan kesulitan menembus jaringan distribusi besar yang selama ini menjadi pintu masuk pasar nasional dan mancanegara.
Untuk menguatkan mentalitas wirausaha lokal, Herman mengingatkan sebuah pepatah Sunda yang menekankan arti konsistensi dan daya tahan. "Walaupun batu keras dan air itu hanya setetes, tapi terus-terusan, sudah akan jadi lubang (cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok)," ucapnya.
Menurut dia, kegagalan bukanlah alasan untuk berhenti melainkan bagian dari proses pengulangan menuju keberhasilan. "Mun keyeng tangtu pareng (kalau ulet pasti tercapai), kata leluhur. Tidak ada yang unggul, yang ada adalah pengulangan. Repetition, diulang-ulang terus," katanya.
Selain penguatan pola pikir dan pemenuhan legalitas, pelaku UMKM diimbau aktif membangun ekosistem pergaulan bisnis. Jaringan yang saling mendukung dinilai mampu memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan kapasitas produksi.
Pemprov Jabar konsisten menargetkan seluruh UMKM di wilayahnya bisa naik kelas. Berbagai program intervensi akan terus digulirkan, mulai dari kemudahan perizinan, pelatihan manajemen, hingga fasilitasi pembiayaan, guna memastikan produk lokal tidak hanya bertahan di pasar domestik tetapi juga kompetitif di kancah global.