KUNINGAN — Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Imam Nur Suharno menyebut pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang terbukti berandil besar membangun karakter bangsa. Penegasan itu disampaikannya menyambut peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh setiap 22 Oktober.
Menurutnya, peringatan HSN bukan sekadar seremonial tahunan. Momentum itu menegaskan kembali posisi pesantren sebagai tempat melahirkan SDM unggul dan berakhlak mulia yang siap berkontribusi membangun bangsa dan negara.
Pertanyaan yang kemudian muncul: di tengah derasnya arus gawai, tayangan negatif, dan pergaulan bebas, siapa yang masih sanggup menempa karakter anak 24 jam penuh? Jawabannya, tulis Imam, masih sama sejak ratusan tahun: pesantren.
Imam menyebut ada dua kunci utama yang membuat pesantren unggul dalam pembinaan karakter. Pertama, integrasi ilmu umum dan ilmu agama dalam satu kurikulum. Kedua, pembinaan 24 jam penuh.
Perbandingannya cukup tajam. Sekolah umum hanya bertemu siswa sekitar tujuh jam sehari. Pesantren menempa santri sepanjang waktu di bawah pengawasan ustadz dan kyai.
Dampaknya langsung terasa pada minimnya pengaruh buruk dari luar. Di asrama, santri hidup bersama, belajar mandiri, disiplin, dan sederhana. Inilah yang disebut Imam sebagai pendidikan karakter yang sesungguhnya.
Imam menyoroti kondisi siswa sekolah umum yang tidak berasrama. Sepulang sekolah, waktu sering habis untuk menonton televisi dan bermain gawai, bukan membaca buku.
Di kota besar, tambahnya, waktu justru habis di jalan karena macet. Ada pula kasus ironis: berangkat dari rumah tetapi tidak sampai ke sekolah.
Kondisi itu, menurut Imam, memperkuat alasan mengapa pesantren tetap relevan sebagai pilihan utama pendidikan anak. Pesantren bukan hanya sekolah, melainkan kawah candradimuka yang mencetak insan kamil: anak yang saleh sekaligus pintar.
Imam merinci setidaknya empat keunggulan yang dimiliki pesantren. Pertama, menanamkan hakikat keimanan. Iman disebutnya sebagai fondasi amal, dan hanya dengan iman yang lurus seorang muslim bisa selamat di hari yang "tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali yang menghadap Allah dengan hati bersih" (QS. Asy-Syu'ara: 88-89).
Kedua, memberi ilmu yang luas. Santri tidak hanya mengaji, tetapi juga belajar ilmu umum. Dalam 24 jam mereka dibimbing secara intens, sekaligus ditempa kemandirian dan etos kerja.
Ketiga, menempa akhlak mulia. Dari sinilah lahir teladan bagi keluarga dan masyarakat. Imam menyebut banyak pemimpin bangsa lahir dari pesantren.
Keempat, menuntut pengamalan ilmu. Ilmu tanpa amal, tulisnya, ibarat pohon tanpa buah. Pesantren mendidik agar ilmu diamalkan untuk kebaikan diri dan masyarakat, bangsa dan negara.
Pesantren Husnul Khotimah Kuningan sendiri berbasis dakwah dan tarbiyah. Lembaga ini berkomitmen melahirkan SDM unggul dalam prestasi dan kepemimpinan, sekaligus kader-kader dakwah berwawasan global.
Imam menutup dengan seruan bahwa penguatan pesantren bukan tugas pesantren semata. Orang tua, negara, dan masyarakat diminta ikut mengambil peran.
"Karena masa depan bangsa, ada di sana," tulisnya.