JAWA BARAT — Rekaman CCTV beberapa anak laki-laki yang menemani teman perempuannya pulang karena ban sepeda bocor sempat ramai di media sosial dan membuat banyak orang tua terharu. Sikap peduli seperti itu tidak muncul tiba-tiba, dan artikel ini merangkum 7 cara praktis menanamkan rasa hormat pada anak laki-laki lewat kebiasaan sehari-hari di rumah.
Rekaman CCTV yang diunggah akun Instagram theAsianparent Indonesia memperlihatkan sekelompok anak laki-laki berjalan mengiringi teman perempuannya pulang setelah ban sepeda sang teman bocor. Mereka tidak meninggalkannya sendirian, juga tidak menertawakan kesulitannya.
Unggahan itu dibanjiri ribuan tanda suka dan komentar dari para orang tua. Banyak yang menyebut adegan sederhana tersebut sebagai gambaran pola asuh yang berhasil.
Sikap melindungi dan peduli tidak lahir begitu saja. Anak laki-laki biasanya meniru apa yang ia lihat dan alami di rumah: cara ayah memperlakukan ibu, cara orang tua berbicara tentang perempuan, dan nilai yang ditanamkan setiap hari.
Momen kecil seperti menemani teman yang sedang kesulitan menunjukkan anak sudah memahami empati, tanggung jawab, dan rasa hormat. Inilah inti mendidik anak laki-laki menghormati perempuan, yakni menanamkan nilai lewat kebiasaan, bukan sekadar nasihat lisan.
Mengajarkan anak menghargai perempuan bukan cuma soal sopan santun. Ada beberapa alasan yang membuatnya penting untuk masa depan anak.
Anak adalah peniru ulung. Cara ayah memperlakukan ibu, dan sebaliknya, menjadi pelajaran paling kuat baginya.
Tunjukkan sikap saling menghargai, berbicara dengan lembut, dan berbagi tugas rumah tangga di depan anak. Ia akan menyerap pola itu tanpa perlu diajari panjang lebar.
Ajak anak membayangkan perasaan orang lain lewat pertanyaan sederhana. Misalnya, "Kalau kamu yang sepedanya rusak di jalan, kamu mau teman-temanmu bagaimana?"
Pertanyaan seperti ini melatih anak untuk peduli tanpa merasa sedang diceramahi.
Ajarkan bahwa setiap orang punya hak atas tubuhnya sendiri. Biasakan anak meminta izin sebelum memeluk, meminjam barang, atau bercanda secara fisik.
Tekankan juga bahwa kata "tidak" harus dihargai, termasuk ketika yang mengatakan tidak adalah teman perempuannya.
Perhatikan bahasa yang dipakai di rumah. Ungkapan seperti "nangis kayak cewek" atau "lemah kayak perempuan" diam-diam menanamkan pandangan bahwa perempuan lebih rendah.
Ganti dengan kalimat yang netral dan positif, karena anak menyerap kosakata keluarga lebih cepat daripada yang kita sadari.
Tugas rumah bukan urusan perempuan saja. Ajak anak laki-laki mencuci piring, merapikan kamar, atau membantu memasak.
Dari kebiasaan ini ia belajar bahwa tanggung jawab dibagi bersama, bukan diberikan kepada satu jenis kelamin.
Ketika anak menunjukkan sikap peduli, misalnya membantu temannya atau bersikap sopan, berikan apresiasi yang spesifik. Contohnya, "Ayah bangga kamu tadi menolong temanmu."
Pujian yang tulus dan menyebut detail perbuatannya memperkuat perilaku positif itu agar terulang.
Video anak laki-laki yang menemani temannya pulang bisa jadi bahan obrolan yang bagus. Tonton bersama anak, lalu tanyakan pendapatnya: "Menurutmu, kenapa mereka menemani temannya pulang?"
Diskusi seperti ini membantu anak menyerap nilai tanpa merasa digurui.
Bila anak mulai sering mengucapkan candaan yang merendahkan perempuan, enggan menghargai kata "tidak" dari teman, atau meniru kekerasan dari lingkungan sekitarnya, jangan langsung memarahinya. Ajak bicara baik-baik dan telusuri sumber kebiasaan itu.
Jika perilaku tersebut berlangsung terus meski sudah diingatkan berulang, konsultasi dengan psikolog anak bisa membantu orang tua menemukan pendekatan yang tepat.
Anak-anak dalam video itu mungkin tidak sadar tindakan mereka menginspirasi banyak orang. Justru di situlah kekuatannya: kebaikan yang tulus lahir dari kebiasaan kecil yang ditanamkan di rumah, bukan dari nasihat sesaat.