Pencarian

Rupiah Melemah ke Rp17.353, Properti Jawa Barat Hadapi Tekanan Biaya

Jumat, 01 Mei 2026 • 17:15:06 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.353, Properti Jawa Barat Hadapi Tekanan Biaya
Rupiah melemah ke Rp17.353 per dolar AS pada perdagangan Kamis, menekan sektor properti Jawa Barat.

Jakarta — Pelemahan nilai tukar rupiah semakin mengkhawatirkan pelaku industri properti. Pada perdagangan Kamis (30/4/2026), rupiah ditutup di posisi Rp17.353 per dolar AS, melemah 27 poin dari hari sebelumnya pada level Rp17.326. Kondisi ini mencerminkan tekanan pasar global yang terus memberatkan mata uang rupiah.

Sentimen Global Dorong Pelemahan Rupiah

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi terutama oleh sentimen eksternal. Salah satu pemicu utama adalah rencana Presiden AS Donald Trump yang mempersiapkan blokade angkatan laut berkepanjangan terhadap Iran, yang turut mendorong penguatan dolar AS di pasar global.

Secara teknis, penguatan dolar ini langsung berdampak pada kenaikan biaya impor komponen konstruksi dan material bangunan tertentu. Kondisi ini berpotensi mengerek total biaya investasi pada berbagai proyek properti yang sedang berjalan, termasuk program strategis pemerintah.

Pemerintah Siapkan Strategi Mitigasi

Merespons situasi ini, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menyatakan bahwa hingga saat ini pelemahan rupiah belum berdampak langsung pada perubahan kebutuhan anggaran untuk program pembangunan. Pihaknya sedang menyiapkan strategi mitigasi untuk menjaga stabilitas biaya pembangunan di masa depan.

Strategi utama yang akan dijalankan adalah mendorong penggunaan komponen dalam negeri secara masif pada setiap unit hunian. Langkah ini bertujuan meminimalkan ketergantungan pada material yang terpengaruh fluktuasi kurs dolar. Menteri menekankan bahwa fluktuasi nilai tukar justru menjadi momentum untuk memberdayakan industri domestik dan mengoptimalkan rantai pasok lokal dari hulu ke hilir.

"Sebagai strateginya kita dorong para pengembang untuk menggunakan produk-produk UMKM lokal, seperti contohnya pakai genteng lokal dari program gentengisasi," ujar Maruarar Sirait.

Industri Properti Mengalami Penekanan

Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Realestate Indonesia (REI) Bambang Ekajaya menilai pelemahan mata uang mencerminkan kondisi ekonomi nasional yang sedang tidak baik. Kondisi semakin rumit dengan ketatnya likuiditas perbankan, yang menjadi indikator bahwa dunia bisnis mengalami masa sulit dan penuh ketidakpastian.

Sektor properti ikut terkena imbas, terutama dari sisi daya beli masyarakat yang mengalami penurunan tajam. Investor properti cenderung menahan diri untuk sementara waktu, mengingat biaya konstruksi diprediksi akan terus melonjak seiring kenaikan harga BBM yang cukup drastis.

Pengembang Ambil Langkah Protektif

Meski demikian, beberapa pengembang besar sudah mengambil langkah protektif. Direktur Utama Astra Property Wibowo Muljono mengungkapkan bahwa perusahaannya masih berada dalam posisi aman dari dampak fluktuasi rupiah untuk tahun ini. Keamanan tersebut diperoleh karena telah melakukan penguncian harga dengan para pemasok dan kontraktor hingga September atau Oktober 2026.

Namun, Wibowo mengakui antisipasi harus disiapkan untuk tahun depan. Manajemen Astra Property menghindari pengambilan keputusan terburu-buru mengingat dinamika global yang sangat cair, dan lebih fokus menyelesaikan komitmen kontrak yang sudah ada dengan kualitas terbaik.

Ke depan, industri properti harus terus memonitor perkembangan kurs dan menyesuaikan strategi dengan matang agar tetap kompetitif di tengat ketidakpastian ekonomi global ini.

Bagikan
Sumber: ekonomi.bisnis.com

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks