SUKABUMI — Dewan Pengurus Kecamatan (DPK) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Palabuhanratu menyerukan rekonstruksi paradigma bagi generasi muda di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Langkah ini dianggap krusial di tengah kompleksitas perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang menuntut pemuda tidak sekadar menjadi pelengkap pembangunan.
Wakil Ketua 2 DPK KNPI Palabuhanratu, Ari Awaludin, menyoroti adanya kecenderungan sebagian pemuda yang masih memaknai organisasi sebagai ruang pragmatis. Menurutnya, cara pandang yang hanya mengejar keuntungan material tersebut berpotensi merusak ekosistem kepemudaan yang seharusnya menjadi pilar perubahan daerah.
"Organisasi sejatinya adalah ruang pengabdian, pembelajaran, dan pembentukan karakter," ujar Ari Awaludin dalam keterangannya, Senin (20/5/2024).
Melawan Tren Pragmatisme dalam Organisasi Kepemudaan
Perubahan mendasar dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak menjadi tuntutan utama bagi pemuda di Palabuhanratu saat ini. Ari menilai, tanpa rekonstruksi paradigma, energi besar generasi muda akan terbuang pada kepentingan jangka pendek yang tidak memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.
Ia menegaskan bahwa organisasi harus dikembalikan pada marwahnya sebagai laboratorium ide. Kesejahteraan yang diperoleh dari aktivitas organisasi seharusnya menjadi dampak dari kredibilitas dan dedikasi, bukan dijadikan sebagai tujuan utama sejak awal bergabung.
Mengenal Konsep MASAGI: Pilar Baru Kepemimpinan Pemuda
Sebagai solusi atas tantangan tersebut, KNPI Palabuhanratu menawarkan konsep MASAGI sebagai kerangka etik dan operasional. Konsep ini terdiri dari empat pilar utama yang harus dipegang teguh oleh setiap aktivis pemuda di Sukabumi:
- Maju: Pemuda harus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan informasi serta memiliki pemikiran visioner.
- Akuntabel: Mengedepankan integritas, di mana setiap langkah organisasi dapat dipertanggungjawabkan secara moral maupun sosial.
- Sportif: Menjunjung objektivitas dalam dinamika organisasi dan menghargai perbedaan sebagai sebuah kekuatan.
- Aktualisasi gagasan inovatif: Menjadi laboratorium ide yang mampu melahirkan solusi atas persoalan ekonomi, sosial, dan budaya lokal.
Penerapan nilai-nilai ini diharapkan mampu melahirkan organisasi yang sehat, mandiri, dan memiliki daya saing tinggi di tingkat regional maupun nasional.
Wujudkan Visi Sukabumi Mubarakah Lewat Integritas
Internalisasi nilai MASAGI secara kolektif diyakini menjadi jalan strategis menuju pencapaian visi Sukabumi Mubarakah. Visi ini mencakup empat elemen penting bagi daerah, yakni Maju, Unggul, Berbudaya, dan Berkah, yang mencakup kesejahteraan material sekaligus spiritual.
Ari menambahkan bahwa apa yang terjadi di Palabuhanratu merupakan miniatur dari tantangan kepemudaan di Indonesia secara umum. Ketika pemuda di tingkat daerah mampu bertransformasi menjadi agen perubahan yang berintegritas, kontribusinya akan melampaui batas geografis.
"Masa depan Sukabumi ditentukan oleh sejauh mana pemudanya mampu menjaga idealisme, mengasah kapasitas, dan menempatkan pengabdian di atas kepentingan sesaat," pungkasnya.