BANDUNG — Dua sekolah menengah atas negeri favorit di Kota Bandung, SMAN 3 dan SMAN 5, resmi ditetapkan sebagai proyek percontohan program Sekolah Maung. Keputusan ini diambil untuk mengembalikan pamor sekolah negeri unggulan yang dinilai terus merosot dalam satu dekade terakhir.
Mengapa Bandung Dapat Kuota Ganda?
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, membenarkan penunjukan dua sekolah tersebut. "Untuk SMA satu kabupaten kota satu, kecuali Bandung ada dua, SMA 3 dan 5 pengecualian, kemudian untuk SMK satu cabang dinas itu satu," ujarnya.
Secara keseluruhan, ada 41 sekolah negeri yang telah dipilih menjadi pusat pengembangan Sekolah Maung. Komposisinya terdiri dari 28 SMA dan 13 SMK. Penentuan sekolah dilakukan berdasarkan usulan Kantor Cabang Dinas (KCD) Disdik Jabar di masing-masing wilayah sebelum diverifikasi oleh tim bentukan pemerintah provinsi.
Nama Sekolah Akan Berganti?
Pemprov Jabar saat ini masih menunggu persetujuan perubahan dari Kemeterian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terkait penggantian nama sekolah menjadi Sekolah Maung. "Iya (namanya menjadi Sekolah Maung) nanti kita akan usulkan ke kementerian. Kita kalau diizinkan oleh kementerian akan melakukan itu," kata Purwanto.
Alasan di Balik Lahirnya Sekolah Maung
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengaku, digulirkannya program Sekolah Maung karena melihat kualitas sekolah unggulan negeri di Jawa Barat yang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak sistem zonasi diterapkan. "Yang lahiran tahun 90-an pasti tahu. Setiap kabupaten/kota itu pasti ada sekolah favorit, biasanya SMA 1. Kalau di Bandung, SMA 3 dan SMA 5. Seiring dengan waktu, dengan diberlakukan zonasi, tingkat kualifikasi sekolah terus mengalami penurunan tajam," kata Dedi.
Menurut Dedi, kondisi itu bahkan sudah menjadi perhatian pemerintah pusat. Ia mengaku mendapat masukan langsung dari Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah mengenai merosotnya kualitas sekolah unggulan negeri di Jawa Barat. "Sebagai bahan kajian, kemarin Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menyampaikan pada saya, di Jawa Barat sekolah yang punya kualifikasi sebagai sekolah unggul itu tinggal SMA 3. Yang lainnya sudah didominasi swasta," ujarnya.
Jalur Prestasi Jadi Prioritas Utama
Lewat Sekolah Maung, Pemprov Jabar ingin mengembalikan pola sekolah unggulan berbasis prestasi akademik dan non-akademik. Dedi menegaskan, jalur prestasi akan mendapat porsi lebih besar dibanding zonasi. "Prestasi akademiknya harus diperluas, kemudian non-akademiknya diperbesar. Non-akademik itu misalnya kemampuan seni, kemampuan olahraga, kemampuan-kemampuan lain yang itu mampu membangun keunggulan manusia," sambung Dedi.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan dukungan pembiayaan bagi sekolah swasta agar siswa dari keluarga menengah ke bawah tetap memiliki akses pendidikan berkualitas. Hal ini untuk mengantisipasi dampak jika sekolah negeri unggulan kembali diminati dan persaingan masuk semakin ketat.