Pencarian

Idul Adha 1447 H, Perajin Tusuk Sate di Tasikmalaya Raup Omzet Rp 17 Ribu per Kilogram, Pesanan Naik 100 Persen

Selasa, 19 Mei 2026 • 12:57:41 WIB
Idul Adha 1447 H, Perajin Tusuk Sate di Tasikmalaya Raup Omzet Rp 17 Ribu per Kilogram, Pesanan Naik 100 Persen
Perajin tusuk sate di Tasikmalaya catat kenaikan pesanan 100 persen jelang Idul Adha 1447 H.

TASIKMALAYA — Geliat ekonomi di kota santri ini menguat jelang Hari Raya Kurban. Perajin tusuk sate di Kampung Panunggulan, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tamansari, mencatat kenaikan permintaan pasar hingga 100 persen dibanding hari biasa.

Karto Widodo, pemilik pabrik rumahan tusuk sate di lokasi tersebut, mengatakan puncak produksi selalu terjadi setiap Idul Adha. "Momen Iduladha memang jadi puncak produksi tusuk sate. Kenaikan marketnya hampir 100 persen naik," ujarnya di pabrik, Senin (18/5/2026).

Pesanan Overload, Perajin Pilih Fokus ke Mitra Lama

Derasnya pesanan baru tidak membuat Karto serta-merta menerima semuanya. Kapasitas mesin yang terbatas menjadi kendala utama. Satu unit mesin di pabrik induk Tamansari hanya mampu mengolah hingga 250 kilogram tusuk sate basah per hari.

"Kalau pesanan overload, banyak yang kami tolak sebenarnya. Sebab kami tidak mampu suplai. Jadi kami tetap continue untuk suplai ke pelanggan yang sudah langganan," kata Karto.

Kebijakan ini diambil demi menjaga ritme bisnis dan kepercayaan mitra yang sudah bergantung pada pasokan tusuk sate dari Tamansari. Total, Karto mempekerjakan 18 orang yang tersebar di tiga lokasi produksi: Tamansari (8 pekerja), Cineam, dan Cikalong.

Harga Tusuk Sate Rp 17 Ribu per Kilogram, Pasar Tembus Jakarta-Surabaya

Karto membanderol tusuk sate produksinya seharga Rp 17.000 per kilogram. Untuk kemasan pak kecil berisi 400 tusuk, harganya Rp 4.500. Meski permintaan melonjak, harga jual disebutnya tidak berubah selama musim kurban.

Distribusi produk tidak hanya berputar di Priangan Timur. Tengkulak dari Jakarta dan Surabaya disebut Karto kerap datang langsung ke pabrik untuk mengambil barang. "Kita juga sampai ke Jakarta, Surabaya. Jadi semua datang ke sini langsung," katanya.

Kendala Cuaca dan Stok Bambu yang Aman

Faktor alam menjadi kerikil tajam dalam bisnis ini. Hujan yang turun tak menentu sering memperlambat proses pengeringan tusuk sate, sehingga produksi ikut tersendat. Namun, untuk bahan baku utama, Karto mengaku tidak khawatir.

"Tapi kalau untuk bambu sendiri saya kira di wilayah Priangan tidak akan habis," ujarnya.

Ketersediaan bambu yang melimpah di kawasan Priangan menjadi modal utama keberlangsungan usaha ini. Meski permintaan melonjak drastis setiap Idul Adha, perajin di Tasikmalaya tetap bisa mengandalkan pasokan bahan baku lokal tanpa perlu mendatangkan dari luar daerah.

Bagikan
Sumber: detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks