BANTEN — Empat kampung adat di Jawa Barat dan Banten menyimpan tradisi leluhur yang masih berjalan utuh. Desa Baduy Dalam di Banten, Ciptagelar di Sukabumi, Cireundeu di Cimahi, dan Kampung Pulo di Garut menjadi destinasi bagi mereka yang ingin merasakan ketenangan di tengah alam.
Baduy Dalam: Menyatu dengan Alam Tanpa Teknologi
Suku Baduy Dalam di pedalaman Lebak, Banten, dikenal dengan aturan adat yang ketat. Warga setempat tidak menggunakan listrik, kendaraan bermotor, maupun perangkat elektronik.
Pengunjung yang datang harus menghormati aturan tersebut. Aktivitas seperti memotret atau membawa sabun kimia dilarang keras di wilayah ini.
Pengalaman yang ditawarkan adalah kembali ke cara hidup paling sederhana. Berjalan kaki menyusuri bukit dan sungai menjadi satu-satunya moda transportasi.
Ciptagelar: Tradisi Pertanian yang Masih Diwariskan
Berada di kawasan Gunung Halimun, Sukabumi, Kasepuhan Ciptagelar memegang teguh tradisi pertanian padi huma. Masyarakat di sana masih menggunakan kalender sendiri untuk menentukan masa tanam dan panen.
Ritual Seren Taun menjadi puncak acara tahunan yang digelar sebagai wujud syukur. Wisatawan bisa menyaksikan prosesi ini jika berkunjung di waktu yang tepat.
Rumah-rumah panggung tanpa paku dan pemandangan sawah bertingkat menjadi daya tarik visual yang sulit ditemukan di tempat lain.
Cireundeu: Kampung Adat di Tengah Kota Cimahi
Berlokasi di Kelurahan Leuwigajah, Cimahi, Kampung Adat Cireundeu justru berada di tengah lingkungan perkotaan. Masyarakatnya dikenal karena pola makan pokok berbasis singkong, bukan beras.
Mereka mengolah singkong menjadi rasi atau beras singkong sebagai pengganti nasi. Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun dan menjadi identitas budaya warga setempat.
Pengunjung bisa belajar langsung proses pembuatan rasi dan mencicipi makanan khas tersebut. Suasana kampung yang asri kontras dengan hiruk-pikuk Kota Cimahi yang hanya beberapa kilometer jauhnya.
Kampung Pulo: Adat di Tengah Situ Cangkuang
Kampung Pulo berada di tengah Situ Cangkuang, Garut. Akses menuju kampung ini hanya bisa ditempuh dengan perahu kecil melintasi danau.
Di dalamnya terdapat sembilan rumah panggung yang dihuni oleh keturunan Eyang Arif Muhammad. Aturan adat melarang warga membangun rumah baru atau mengganti bahan bangunan dengan material modern.
Suasana hening dan pemandangan danau menjadi daya tarik utama. Pengunjung bisa berkeliling kampung sambil belajar tentang sejarah Candi Cangkuang yang berada di dekat lokasi.