CIAMIS — Tiga kecamatan di Kabupaten Ciamis masuk dalam zona rawan kekeringan yang rutin mengalami krisis air bersih setiap kemarau. BPBD setempat pun menyiagakan personel dan armada tangki untuk mengantisipasi dampak puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ciamis Ani Supiani mengatakan, saat ini pihaknya telah menyelesaikan pemetaan daerah rawan kekeringan. “Sudah kami siapkan,” ujarnya melalui sambungan telepon, Rabu.
Tiga Kecamatan Rawan Kekeringan
Hasil pemetaan BPBD menunjukkan, tiga kecamatan yang setiap tahun kesulitan air bersih saat kemarau adalah Kecamatan Banjaranyar, Pamarican, dan Banjarsari. Ketiganya menjadi prioritas pendistribusian air bersih jika laporan dari masyarakat mulai masuk.
“Telepon saja ke admin PB (penanggulangan bencana) nanti disiapkan, terus kirim surat dari desa diketahui camat,” kata Ani menjelaskan prosedur pelaporan bagi warga yang membutuhkan.
Empat Truk Tangki Disiagakan, PDAM Siap Bantu
BPBD Ciamis menyiagakan empat unit truk tangki air untuk operasi distribusi. Selain itu, penguatan armada juga datang dari PDAM Ciamis yang siap mengerahkan kendaraannya jika kebutuhan air bersih meningkat.
Ani menambahkan, koordinasi kesiapsiagaan juga telah dilakukan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Meski begitu, hingga saat ini belum ada laporan dari masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih.
Prediksi BMKG: Awal Kemarau Mei 2026
Berdasarkan laporan BMKG, awal musim kemarau di Ciamis diperkirakan mulai pada Mei 2026. Saat ini wilayah tersebut masih sesekali diguyur hujan. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026, yang menjadi pijakan BPBD untuk mematangkan persiapan sejak dini.
Masyarakat yang membutuhkan bantuan air bersih dapat menghubungi kantor BPBD Ciamis secara langsung atau mengirimkan permohonan resmi melalui kantor desa yang diketahui camat setempat.