CIBUNGBULANG — Sawah bukan lagi identik dengan pekerjaan orang tua di mata pemuda Cibungbulang. Program Petani Berdasi yang digulirkan di Kabupaten Bogor berhasil mengubah stigma itu. Kini, puluhan pemuda di desa-desa seperti Situ Ilir dan Cimanggu mulai aktif menggarap lahan pertanian keluarga.
Mereka tidak sekadar menanam padi. Para peserta program dibekali teknik budidaya modern, mulai dari penggunaan pupuk organik hingga sistem irigasi tetes. Hasilnya, produktivitas sawah meningkat dan biaya produksi bisa ditekan.
Apa yang Membuat Anak Muda Tergiur ke Sawah?
Program Petani Berdasi memberikan pendampingan teknis dan akses ke pasar. Peserta diajari mengelola lahan secara bisnis, bukan sekadar bercocok tanam. Mereka juga difasilitasi untuk menjual hasil panen langsung ke mitra, tanpa melalui tengkulak.
“Dulu saya pikir bertani itu kotor dan tidak menjanjikan. Setelah ikut program ini, ternyata hasilnya bisa lebih besar dari kerja di pabrik,” ujar seorang peserta program, warga Desa Situ Ilir.
Bagaimana Dampaknya ke Produktivitas Lahan?
Lahan-lahan tidur mulai diolah kembali. Beberapa kelompok pemuda bahkan mengelola sawah secara kolektif dengan sistem bagi hasil. Mereka mencatat, pendapatan per musim tanam bisa mencapai Rp 5 juta hingga Rp 8 juta per 1.000 meter persegi, tergantung komoditas yang ditanam.
Selain padi, mereka juga menanam cabai, terong, dan sayuran dataran rendah. Diversifikasi ini membuat pendapatan tidak hanya bergantung pada satu musim panen.
Apakah Program Ini Berkelanjutan?
Pemerintah Kabupaten Bogor berencana memperluas program Petani Berdasi ke kecamatan lain. Saat ini, baru Cibungbulang yang menjadi percontohan. Ke depan, program ini akan melibatkan lebih banyak penyuluh pertanian dan akses permodalan dari bank daerah.
Para peserta juga didorong membentuk koperasi agar hasil panen bisa diolah sendiri, seperti menjadi beras kemasan atau produk olahan cabai. Ini diharapkan meningkatkan nilai jual dan daya tawar petani muda.
Kendala yang Dihadapi Petani Muda Cibungbulang
Meski antusiasme tinggi, beberapa kendala masih ditemui. Cuaca ekstrem dan hama menjadi tantangan utama. Para pemuda juga mengaku butuh pendampingan lebih intensif, terutama dalam membaca pasar dan mengelola keuangan usaha tani.
Namun, mereka optimistis. “Kami belajar dari pengalaman. Yang penting mulai dulu, nanti sambil jalan kami perbaiki,” kata peserta lainnya.