CIAMIS — Rencana merger sekolah dasar di Kabupaten Ciamis mulai dimatangkan. Kepala Disdik Ciamis Erwan Darmawan menyebutkan, evaluasi tengah dilakukan terhadap beberapa SD yang lokasinya berdekatan, terutama yang hanya kebagian satu murid baru pada PPDB tahun ajaran 2026/2027.
"Alhamdulillah pelaksanaan PPDB tahun ini relatif lancar. Memang ada beberapa sekolah yang siswanya sangat sedikit," ujar Erwan, Senin (29/6/2026).
Kekurangan Guru Mencapai 2.396 Orang
Data Disdik Ciamis menunjukkan kebutuhan guru ASN untuk jenjang SD dan SMP mencapai 8.541 orang. Namun, jumlah yang tersedia saat ini hanya sekitar 6.145 orang. Artinya, masih ada selisih hampir 2.400 guru yang belum terpenuhi.
"Pertimbangannya bukan hanya jumlah murid, tetapi karena saat ini Ciamis kekurangan guru," tegas Erwan.
SD Satu Halaman Jadi Prioritas Merger
Disdik Ciamis telah memetakan sekolah-sekolah yang berpotensi digabung. Prioritas utama adalah SD yang berada dalam satu halaman atau jaraknya sangat dekat. Untuk sekolah yang berjarak 100 hingga 200 meter, masih dikaji ulang.
"Kalau sekolahnya masih satu halaman, kemungkinan bisa segera digabung. Tetapi kalau jaraknya sekitar 100 sampai 200 meter, itu masih kami pertimbangkan. Kami juga memikirkan anak-anak kelas satu yang masih kecil, jangan sampai mereka kesulitan harus berjalan lebih jauh," jelas Erwan.
Sekolah di Wilayah Terpencil Tetap Dipertahankan
Meski begitu, tidak semua sekolah dengan jumlah murid sedikit akan ditutup. Erwan menegaskan, SD yang lokasinya berjauhan dengan sekolah lain tetap akan dipertahankan. Hal ini untuk menjaga akses pendidikan tetap dekat dengan masyarakat.
"Kalau sekolahnya jauh, tentu tidak akan kami merger. Pelayanan pendidikan harus tetap didekatkan kepada masyarakat. Jadi meskipun muridnya hanya satu orang, kalau tidak ada sekolah lain yang dekat, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan," ujarnya.
Bukan karena Bangunan Sekolah Rusak
Erwan membantah anggapan bahwa minimnya jumlah murid disebabkan oleh kondisi fisik bangunan sekolah. Menurutnya, faktor persebaran penduduk dan pilihan orang tua menjadi penyebab utama.
"Saya rasa bukan karena kondisi bangunan sekolah. Bisa saja karena persebaran penduduk, ada wilayah yang jumlah anak usia sekolahnya meningkat, ada juga yang menurun. Selain itu, masyarakat juga memiliki pilihan sendiri untuk menyekolahkan anaknya," kata Erwan.
Disdik Ciamis mengajak masyarakat turut serta memastikan tidak ada anak usia 6 hingga 7 tahun yang putus sekolah. Orang tua diberikan kebebasan memilih sekolah negeri, swasta, maupun madrasah ibtidaiyah (MI).
"Yang jelas, meski siswanya hanya satu orang, tetap kami layani secara maksimal," pungkas Erwan.