MAJALENGKA — Bupati Majalengka Eman Suherman mengaku kewalahan dengan jumlah pendaftar program KB permanen yang membeludak. Dari target 250 akseptor, pendaftar justru mencapai sekitar 300 orang. Kuota yang disiapkan pun tidak mencukupi.
Animo Masyarakat di Luar Dugaan Pemerintah
"Kami semula memperkirakan partisipasi masyarakat tidak terlalu tinggi. Namun, ternyata pesertanya membeludak hingga kuota yang disiapkan terlampaui," kata Eman saat memberikan keterangan di Majalengka, Kamis.
Ia menilai fenomena ini bukan lagi sekadar dorongan program pemerintah. Banyak pasangan yang justru mendaftar jauh-jauh hari dan memilih menjalani pelayanan secara mandiri karena sudah menjadi kebutuhan keluarga.
Laju Pertumbuhan Penduduk Terkendali di Bawah 1 Persen
Eman menambahkan, peningkatan jumlah akseptor KB ini sejalan dengan upaya pengendalian penduduk di Majalengka. Saat ini, laju pertumbuhan penduduk di daerahnya tercatat 0,77 persen atau masih di bawah satu persen.
"Melalui pelayanan KB yang optimal ini kami berharap dapat terus mendukung terwujudnya keluarga yang sehat, sejahtera, bahagia, dan berkualitas," ujarnya.
Kolaborasi dengan BKKBN: Pelayanan KB Permanen Kian Diminati
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Majalengka, Gun Gun Mochamad Dharmadi, menyebut pelayanan tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat.
"Tingginya partisipasi masyarakat menjadi indikator meningkatnya penerimaan terhadap pelayanan KB permanen, baik bagi perempuan maupun laki-laki,” katanya.
Program MOW (Metode Operasi Wanita) dan MOP (Metode Operasi Pria) merupakan kontrasepsi mantap yang bersifat permanen. Metode ini umumnya dipilih pasangan yang sudah memiliki jumlah anak cukup dan tidak ingin memiliki keturunan lagi.