TASIKMALAYA — Sawah yang seharusnya menjadi lahan produktif bagi petani di Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, justru berubah menjadi tempat pembuangan sampah botol minuman keras. Setiap pagi, para petani harus membersihkan lahan mereka dari puluhan hingga ratusan botol miras yang dibuang sembarangan.
Botol Miras Impor hingga Rp 1 Jutaan Juga Ditemukan
Badrol, salah seorang petani penggarap, mengungkapkan bahwa botol-botol yang ditemukan sangat beragam. Mulai dari botol cap orang tua, anggur merah, bir, hingga botol miras impor dengan harga mencapai Rp 1 jutaan per botol.
"Yah banyak semua jenis ada termasuk botol miras impor dengan harga 1 jutaan juga ditemukan dan kalau gak salah merk Jack Daniel's dengan liter 700ml," kata Badrol saat ditemui di lokasi, Minggu (5/7/2026).
Pecahan Botol Ancam Keselamatan Petani dan Anak-Anak
Para petani tidak hanya mengeluhkan kebersihan sawah yang terganggu. Pecahan botol kaca yang berserakan menjadi ancaman serius bagi keselamatan mereka yang bekerja di sawah. Bahaya ini juga mengintai anak-anak yang ikut serta ke ladang.
"Kalau ke injak pecahan botol, bisa luka serius dan kalau tidak cepat di tangani akan berakibat tetanus," ujar Badrol.
Diduga Ulah Pemuda yang Mabuk di Pinggir Jalan
Badrol menduga botol-botol tersebut dibuang oleh para pemuda yang habis minum di pinggir jalan lingkar utara. Setelah mabuk, mereka langsung melemparkan botol kosong ke area persawahan tanpa memikirkan dampaknya. "Setiap malam rame para pedagang laris di beli, tapi buat kami tidak ada untungnya sawah jadi kotor," keluhnya.
Petani Desak Pemkot Tasikmalaya dan Polisi Bertindak
Kondisi yang sudah berlangsung berbulan-bulan tanpa ada perubahan membuat para petani dan warga sekitar mendesak pemerintah kota untuk segera turun tangan. Mereka meminta Pemkot Tasikmalaya, Satpol PP, dan kepolisian untuk memasang CCTV, menggelar patroli malam, serta memberikan sanksi tegas bagi pelaku pembuangan sampah sembarangan.
"Razia saja mereka yang berhenti di pinggir jalan, mereka sembunyikan miras itu di pinggir sawah dan tangkap, biar jera," kata seorang warga.
Para petani menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar sampah biasa. "Ini bukan soal sampah biasa. Ini soal penghinaan terhadap petani. 500 botol sehari, kali sebulan berapa ribu botol yang mencemari tanah pertanian di Kota Tasikmalaya. Masa Kota Tasikmalaya yang dikenal religius islami, sawahnya dijadikan tempat pembuangan botol miras. Sawah itu tempat kerja, bukan tong sampah," ungkap Badrol.