JAWA BARAT — Tak ada striker yang lebih efisien dari Romelu Lukaku di Piala Dunia 2026. Dari tiga laga yang sudah dijalani Belgia, setiap gol yang dicetak penyerang berusia 33 tahun itu lahir dari satu-satunya tembakan tepat sasaran yang ia lepaskan. Data ini menempatkannya di atas para bintang seperti Kylian Mbappe dan Lionel Messi yang membutuhkan lebih banyak percobaan untuk mencetak angka.
Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) mencatat, rasio konversi gol Lukaku mencapai 100 persen di turnamen ini. Sebuah angka yang nyaris mustahil untuk seorang ujung tombak di level tertinggi sepak bola internasional.
Tiga Gol, Tiga Tembakan, Tanpa Ampun
Gol pertama Lukaku lahir dari satu-satunya tembakan ke gawang saat Belgia menghadapi lawan berat di babak penyisihan. Pola yang sama terulang di dua laga berikutnya. Ia tak perlu membuang peluang—setiap kali bola diarahkan ke gawang, hasilnya selalu jaring bergetar.
Efisiensi ini kontras dengan pemain depan top lainnya. Mbappe misalnya, harus melepaskan belasan tembakan untuk mengumpulkan jumlah gol yang setara. Messi juga melalui proses yang lebih panjang untuk mencatatkan namanya di papan skor.
Cetak Rekor di Level Tertinggi
Catatan ini bukan hanya soal keberuntungan. Lukaku menunjukkan ketajaman insting dan ketenangan luar biasa di depan gawang. Ia memilih momen yang tepat, menempatkan diri di posisi ideal, dan menyelesaikan peluang tanpa ampun.
Bagi Belgia, sosok Lukaku menjadi jaminan utama di lini depan. Saat tim lain bergantung pada volume tembakan, Belgia cukup mengandalkan satu peluang bersih untuk Lukaku.
Dampak bagi Perjalanan Belgia
Efektivitas ini membuat Belgia melaju mulus ke fase gugur. Pelatih Roberto Martinez punya senjata rahasia yang tak dimiliki tim lain: seorang striker yang tak pernah menyia-nyiakan kesempatan.
Lawan berikutnya harus berpikir ulang. Memberi ruang satu inci saja kepada Lukaku bisa berarti petaka. Karena di Piala Dunia 2026, satu tembakan Lukaku sama dengan satu gol.