INDRAMAYU — Suasana duka menyelimuti Desa Cempeh, Kecamatan Lelea, dan Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, setelah 13 warga tewas dalam kecelakaan beruntun di jalur Pantura, Minggu (12/7/2026) siang. Rombongan yang baru pulang dari pesta pernikahan itu menjadi korban saat mobil pikap yang mereka tumpangi ditabrak dari belakang oleh truk wing box, lalu kembali dihantam truk Hino dari arah berlawanan.
Kasat Lantas Polres Indramayu AKP Undang Syarif menjelaskan, kecelakaan bermula saat pengemudi pikap yang membawa 17 orang berusaha memutar arah di lokasi kejadian. Tiba-tiba, truk wing box melaju dari arah belakang dan menabrak keras sisi belakang pikap. Benturan tersebut mendorong kendaraan hingga akhirnya kembali ditabrak truk Hino yang melaju dari arah berlawanan.
Korban Tewas Tersebar di Dua Rumah Sakit
Tiga orang meninggal dunia seketika di tempat kejadian. Sisanya yang terluka parah segera dievakuasi oleh petugas kepolisian dan warga ke RS Bhayangkara Losarang serta RS Mitra Plumbon Widasari. Namun, sejumlah korban akhirnya mengembuskan napas terakhir saat menjalani perawatan intensif.
Hingga Senin (13/7/2026) pagi, data sementara menyebutkan korban meninggal yang dirawat di RS Bhayangkara Losarang adalah Mohamad Iqbal (12), Riyan Toni (6), Ayu Wulandari (32), Sawen (40), Karsinih (60), Sanerah (46), Idah (39), dan Sinta (32). Sementara di RS Mitra Plumbon Widasari, meninggal dunia Atsal Albara (3), Yunah (49), Warkidi (45), dan Tamara (22). Sebagian besar korban berasal dari Desa Cempeh, Kecamatan Lelea, dan Desa Kiajaran Kulon.
Polisi Gunakan Metode TAA untuk Rekonstruksi
Satlantas Polres Indramayu bersama Direktorat Lalu Lintas Polda Jawa Barat telah melaksanakan olah tempat kejadian perkara pada Senin pagi menggunakan metode Traffic Accident Analysis (TAA). Metode ini digunakan untuk merekonstruksi jalannya kejadian secara utuh, mulai dari kondisi kendaraan, faktor lingkungan, hingga kemungkinan kesalahan pengemudi yang menjadi penyebab utama tragedi ini.
Hingga kini, pihak berwenang masih menyelidiki lebih lanjut dan memastikan seluruh kronologi terungkap dengan jelas, sekaligus memberikan kepastian hukum bagi keluarga korban.
Duka di Tengah Sukacita yang Sirna
Di rumah duka, kerabat dan tetangga berbondong-bondong datang untuk berbagi kesedihan. Ada yang kehilangan anak tunggal, ibu yang harus merelakan suami dan anaknya, hingga kakek dan nenek yang harus menutup usia lebih dulu di tengah perjalanan pulang.
“Kami tak pernah menyangka, tak terbayangkan sama sekali,” ucap salah satu kerabat dengan suara parau, berusaha menahan tangis. “Mereka berangkat dengan riang, berniat menyambut suka cita kerabat. Namun pulang membawa kabar yang menghancurkan hati kami semua.”
Suasana di Desa Cempeh, Desa Kiajaran Kulon, hingga desa-desa tetangga terasa sunyi, seolah ikut berduka cita atas kepergian belasan warganya dalam satu waktu. Bagi mereka yang masih dirawat, doa terbaik terus dipanjatkan agar segera pulih dan kuat menghadapi masa depan yang berat ini.