Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya mencatat penyaluran kredit di wilayah Priangan Timur, Jawa Barat, tumbuh 3,26 persen (year on year) menjadi Rp58,19 triliun hingga posisi Juni 2026. Pertumbuhan tersebut masih didominasi oleh kredit konsumsi yang mencapai Rp30,87 triliun atau 53,06 persen dari total penyaluran.
TASIKMALAYA — Struktur kredit di tujuh kabupaten dan kota Priangan Timur masih bertumpu pada sektor rumah tangga. Kepala OJK Tasikmalaya Nofa Hermawati menyebutkan, kredit konsumsi mendominasi dengan nilai Rp30,87 triliun, diikuti kredit investasi sebesar Rp19,12 triliun dan modal kerja Rp8,20 triliun.
"Dominasi kredit konsumsi tersebut menunjukkan tingginya peran sektor rumah tangga dalam menopang pertumbuhan penyaluran kredit di wilayah Priangan Timur," kata Nofa di Kota Tasikmalaya, Rabu.
Wilayah Cakupan dan Peran Sektor UMKM
Wilayah Priangan Timur yang dicakup OJK Tasikmalaya meliputi Kabupaten Garut, Kabupaten Sumedang, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Banjar, Kabupaten Ciamis, dan Kabupaten Pangandaran.
Dari total kredit yang disalurkan, porsi signifikan mengalir ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Penyaluran kredit UMKM tercatat mencapai Rp24,84 triliun atau 42,70 persen dari total kredit.
Usaha Mikro Mendominasi Penyaluran Kredit UMKM
Berdasarkan skala usaha, penyaluran kredit UMKM masih didominasi oleh usaha mikro dengan nilai Rp15,70 triliun atau 63,20 persen. Sisanya berasal dari usaha kecil sebesar Rp7,28 triliun dan usaha menengah Rp1,87 triliun.
"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perbankan tetap memiliki peran penting dalam mendukung pembiayaan sektor UMKM sebagai salah satu penggerak perekonomian daerah," ujarnya.
Stabilitas Industri Jasa Keuangan Priangan Timur
Secara keseluruhan, industri jasa keuangan di Priangan Timur disebutkan berada dalam kondisi stabil hingga Juni 2026. Hal ini tecermin dari pertumbuhan total aset sebesar 4,54 persen (yoy) menjadi Rp90,94 triliun.
Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tercatat meningkat 7,60 persen (yoy) menjadi Rp37,13 triliun. Sementara itu, pertumbuhan kredit berada di angka 3,26 persen (yoy) menjadi Rp58,19 triliun di tengah kinerja perekonomian nasional yang relatif stabil.