BANDUNG — Kekeringan mulai melanda sejumlah wilayah Jawa Barat sebelum memasuki puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada September-Oktober 2026. BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung mencatat empat kabupaten telah merasakan dampak langsung, yakni Bogor, Garut, Sukabumi, dan Bekasi.
Kondisi ini diperparah oleh fenomena El Niño yang diprediksi memiliki intensitas kuat. Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, menyebut masa kering terparah akan berlangsung mulai awal September hingga Oktober.
El Niño Kuat Perpanjang Musim Kering
"Di mana puncak musim kemarau akan terjadi mulai awal bulan September hingga bulan Oktober. Pengaruh fenomena El Nino yang intensitasnya kuat," kata Suaidi, Minggu (30/8).
BMKG memperkirakan curah hujan baru akan turun secara bertahap di sejumlah wilayah pada November 2026. Artinya, masyarakat harus bersiap menghadapi kondisi kering yang berlangsung lebih dari dua bulan ke depan.
Empat Kabupaten Terdampak, Pasokan Air Bersih Jadi Prioritas
Pemerintah daerah di Kabupaten Bogor, Garut, Sukabumi, dan Bekasi telah melakukan upaya pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warganya. Menjelang puncak kemarau, BMKG meminta pemerintah daerah memperkuat kesiapan cadangan air bersih.
"Kami mengimbau pemerintah daerah memperkuat persiapan pasokan air bersih. Terutama di wilayah yang mulai mengalami dampak kekeringan," ujarnya.
Risiko Kebakaran Lahan Meningkat, Warga Diminta Tak Bakar Lahan
Selain persoalan air, BMKG mengingatkan potensi kebakaran lahan meningkat signifikan selama periode kemarau. Lahan yang kering mudah terbakar dan berpotensi memperburuk kondisi kabut asap di wilayah Jawa Barat.
Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan pertanian saat membuka lahan baru. "Kondisi lahan yang kering dapat meningkatkan risiko kebakaran. Serta berpotensi memperburuk kondisi kabut asap," tegas Suaidi.
BMKG mengimbau seluruh warga Jawa Barat meningkatkan kewaspadaan selama periode puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada September-Oktober 2026 ini.