BOGOR — Perlintasan kereta api tanpa palang pintu di Jalan Sholeh Iskandar, Kota Bogor, sudah berkali-kali memakan korban jiwa. Warga yang tinggal di sekitar lokasi menuntut tindakan nyata dari pemerintah, bukan sekadar imbauan atau rambu peringatan.
Jalan Sholeh Iskandar merupakan salah satu akses utama yang padat kendaraan. Perlintasan kereta di sana tidak dilengkapi pagar pembatas, sehingga pengendara kerap nekat menerobos saat kereta melintas.
“Sudah banyak kejadian, ada yang meninggal. Kami minta pemkot pasang pagar, bukan cuma spanduk,” ujar seorang warga setempat kepada wartawan, Selasa (15/4/2025).
Pemasangan pagar pembatas di perlintasan sebidang sebenarnya sudah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan. Namun, implementasi di lap kerap terkendala koordinasi antara pemkot dan PT KAI.
Warga berharap Pemkot Bogor segera menganggarkan pembangunan pagar tersebut dalam APBD perubahan atau melalui dana kelurahan. “Kami tidak mau menunggu korban lagi. Ini soal nyawa,” tambah warga lainnya.
Belum ada data pasti dari pihak berwenang mengenai jumlah kecelakaan di titik tersebut. Namun, warga menyebut setidaknya tiga kejadian fatal terjadi dalam dua tahun terakhir di perlintasan yang sama.
Kondisi diperparah dengan minimnya penerangan jalan dan rambu yang sudah pudar. Pengendara roda dua disebut paling rentan menjadi korban karena sulit melihat kereta dari kejauhan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Perhubungan Kota Bogor maupun PT KAI Daop 1 Jakarta. Warga berencana mengirimkan surat terbuka ke Wali Kota Bogor agar persoalan ini segera ditindaklanjuti.
“Kami akan datangi balai kota minggu depan. Jangan sampai ada lagi yang meninggal di sini,” tegas seorang tokoh pemuda setempat.
Menurut catatan warga, beberapa perlintasan di Kecamatan Tanah Sareal dan Bogor Timur juga memiliki risiko serupa. Namun, Jalan Sholeh Iskandar dinilai paling berbahaya karena volume kendaraan tinggi dan jarak pandang terbatas.