Rupiah Terus Melemah ke Rp 17.864, Begini Kurs Terbaru di BCA, Mandiri, dan BNI

Penulis: Zulfikar Ahmad  •  Selasa, 02 Juni 2026 | 10:58:01 WIB
Rupiah melemah ke Rp 17.864 per dolar AS di awal Juni 2024.

JAWA BARAT — Tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut di awal Juni. Pada sesi perdagangan pagi ini, rupiah terus merosot mendekati level psikologis Rp 17.900 per dolar AS. Kondisi ini membuat pelaku pasar dan korporasi yang memiliki kebutuhan valuta asing harus mencermati kurs jual di perbankan nasional.

Kurs Acuan Transaksi Valas di Tiga Bank Besar

Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) telah merilis kurs indikasi per pukul 09.38 WIB. Berikut rincian kurs yang bisa menjadi patokan transaksi:

BCA menawarkan tiga jenis kurs. Untuk transaksi melalui layanan elektronik (e-Rate), posisi beli berada di Rp 17.878 per dolar AS dan posisi jual di Rp 17.898 per dolar AS. Sementara untuk transaksi di teller (TT Counter) dan bank notes, BCA memasang kurs beli di Rp 17.690 dan kurs jual di Rp 17.940 per dolar AS.

Bank Mandiri menerapkan skema special rate untuk transaksi di atas 25.000 dolar AS. Pada skema ini, kurs beli tercatat Rp 17.865 dan kurs jual Rp 17.895 per dolar AS. Untuk transaksi reguler di teller, Mandiri mematok kurs beli Rp 17.640 dan kurs jual Rp 17.940 per dolar AS. Adapun untuk bank notes, kurs beli berada di Rp 17.625 dan kurs jual Rp 17.925 per dolar AS.

BNI menetapkan kurs jual di level Rp 17.940 per dolar AS untuk transaksi TT Counter dan bank notes. Sementara itu, kurs beli untuk kedua instrumen tersebut masing-masing berada di Rp 17.640 dan Rp 17.625 per dolar AS.

Mengapa Rupiah Masih Tertekan?

Pelemahan rupiah pagi ini tidak terlepas dari penguatan indeks dolar AS di pasar global. Meski IHSG berhasil mencatatkan penguatan tipis, sentimen eksternal masih mendominasi pergerakan mata uang domestik. Pelaku pasar masih mencermati data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini, terutama data ketenagakerjaan yang bisa mempengaruhi arah suku bunga Federal Reserve.

Di dalam negeri, investor juga menunggu langkah Bank Indonesia selanjutnya dalam menstabilkan kurs. Selisih antara kurs beli dan jual (spread) yang cukup lebar di perbankan, seperti selisih hingga Rp 300 pada TT Counter BCA dan Mandiri, menunjukkan tingginya permintaan dolar AS dari korporasi untuk kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri.

Apa Artinya bagi Korporasi dan Investor?

Bagi perusahaan yang memiliki exposure utang dalam dolar AS, pelemahan rupiah ini akan meningkatkan beban biaya bunga dan cicilan pokok. Sebaliknya, emiten berbasis komoditas ekspor seperti batu bara dan kelapa sawit justru diuntungkan karena pendapatan mereka dalam dolar AS menjadi lebih besar jika dikonversi ke rupiah.

Bagi investor ritel yang berencana melakukan transaksi valas, disarankan untuk membandingkan kurs antarbank. Transaksi melalui e-Banking BCA misalnya, menawarkan spread yang lebih sempit dibandingkan transaksi di teller, sehingga lebih efisien untuk kebutuhan nominal kecil.

Catatan: Kurs yang tercantum merupakan kurs indikasi dan dapat berubah sewaktu-waktu. Untuk transaksi dengan nilai besar, nasabah disarankan menghubungi cabang bank terkait untuk mendapatkan kurs khusus.

Reporter: Zulfikar Ahmad
Sumber: money.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top