BANDUNG — Duta Besar Singapura untuk Indonesia, H.E. Kwok Fook Seng, secara langsung mendorong mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk tidak ragu memanfaatkan peluang karier global di negaranya. Hal itu ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam sesi The Ambassador Talks di Nemangkawi Auditorium, Labtek XIX, SBM Freeport Building, Kamis (4/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Dubes Kwok menyebut bahwa berbagai jalur sudah tersedia, mulai dari program pertukaran pelajar, summer school, program gelar ganda, hingga kesempatan magang dan penempatan kerja.
"Mulailah lebih awal. Pintunya sudah terbuka," ujarnya di hadapan mahasiswa ITB.
Menurut Dubes Kwok, magang bukan sekadar ajang menambah pengalaman. Ia menilai banyak perusahaan di Singapura menggunakan program magang sebagai jalur rekrutmen utama untuk mengenali calon talenta sebelum mereka resmi lulus.
Ia juga menyoroti sejumlah sektor yang akan menjadi motor pertumbuhan global di masa depan. Sektor energi, data dan AI, keberlanjutan, serta jasa disebutnya sebagai bidang yang paling membutuhkan talenta muda lintas negara.
Pada sektor energi, Dubes Kwok menilai Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Ia menyebut kapasitas energi terbarukan Indonesia mencapai sekitar 3.700 GW, sementara kebutuhan Singapura hanya sekitar 20 GW. Angka ini membuka peluang kolaborasi besar dalam pengembangan energi hijau, perdagangan sertifikat energi terbarukan, hingga pasar karbon lintas negara.
Di bidang AI, ia mengingatkan mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi. "Kembangkan kemampuan untuk menerapkan AI dalam menyelesaikan persoalan nyata di bidang masing-masing," tegasnya.
Sektor jasa, menurutnya, juga akan terus tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan terhadap layanan berbasis pengetahuan, teknologi, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi digital.
Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., mengungkapkan bahwa hubungan kolaboratif antara ITB dan Singapura telah terjalin selama lebih dari tiga dekade sejak 1993. Kini, kerja sama tersebut mencakup institusi seperti National University of Singapore (NUS), Nanyang Technological University (NTU), Singapore Management University (SMU), hingga mitra industri seperti Intel Technology Asia.
"Saya mendorong mahasiswa untuk berpikir melampaui batas, memanfaatkan peluang internasional, dan membangun jejaring global," ujar Rektor Tatacipta dalam sambutannya.
Dubes Kwok juga memaparkan bahwa Singapura telah menjadi salah satu investor asing terbesar di Indonesia selama lebih dari satu dekade. Dalam satu tahun terakhir, nilai investasi Singapura di Indonesia mencapai sekitar 20 miliar dolar AS.
"Ini mencerminkan kepercayaan dan komitmen jangka panjang antara kedua negara, sekaligus membuka ruang luas bagi kolaborasi akademik dan industri," jelasnya.
Selain itu, ia turut menyoroti tantangan yang kerap dihadapi pendiri startup generasi pertama, yakni kurangnya perhatian terhadap adaptasi pasar lokal. Menurutnya, inovasi tanpa pemahaman terhadap karakteristik pasar setempat sulit berkembang. Contohnya, bisnis kuliner perlu menyesuaikan produk di setiap daerah, sementara startup digital perlu melakukan penyesuaian agar sesuai dengan kebutuhan pasar yang lebih spesifik.