KUNINGAN — Sampah plastik yang sulit terurai dan bisa bertahan ratusan tahun di alam masih menjadi pemandangan umum di berbagai titik di Kabupaten Kuningan. Mulai dari pinggir jalan, aliran sungai, area pasar, hingga kawasan pantai, tumpukan sampah jenis ini masih mudah ditemukan.
Kondisi tersebut mendapat perhatian serius dari Siti Saroh, mahasiswi Program Studi Hukum Ekonomi Syariah STISHK Kuningan. Ia menyebut bahwa permasalahan ini bukan hanya soal estetika lingkungan, melainkan telah menjadi ancaman global yang turut menyumbang emisi gas rumah kaca.
Indonesia Penyumbang Emisi Metana Terbesar
Dalam skala global, Siti Saroh membeberkan bahwa Indonesia kini disorot sebagai salah satu penyumbang emisi gas metana terbesar di dunia. Data pantauan satelit NASA mencatat, Tempat Pemrosesan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang saja menyemburkan emisi metana hingga 6,3 metrik ton per jam ke udara.
“Bahkan, berdasarkan data terbaru, Indonesia menjadi salah satu penyumbang emisi metana terbesar di dunia. TPST Bantargebang juga sempat menjadi perhatian komunitas global,” kata Siti kepada kuninganmass.com, Kamis (4/6/2026).
Kritik untuk Konten Peduli Lingkungan yang Instan
Di era media sosial saat ini, Siti juga mengkritik fenomena banyak orang yang peduli lingkungan hanya demi kebutuhan konten sesaat. Menurutnya, rasa empati yang sesungguhnya mulai menurun karena banyak warga menganggap urusan sampah hanya tanggung jawab petugas kebersihan dan pemerintah.
“Banyak orang menganggap persoalan sampah bukan tanggung jawab pribadi, padahal kebiasaan kecil seperti membuang bungkus makanan sembarangan dapat menimbulkan dampak besar apabila dilakukan oleh banyak orang,” paparnya.
Harapan dari Aksi Komunitas Anak Muda
Meski demikian, secercah harapan muncul dari aksi nyata komunitas peduli lingkungan. Siti mencontohkan Pandawara Group yang viral karena gerakan bersih-bersih sungai dan pantai. Aksi mereka dinilai sukses memicu lahirnya berbagai komunitas anak muda serupa di berbagai daerah.
“Muncul berbagai komunitas peduli lingkungan yang memberikan pengaruh positif, salah satunya Pandawara Group dengan aksi membersihkan sungai, pantai, dan berbagai tempat yang dipenuhi sampah,” tandasnya.
4 Langkah Sederhana yang Bisa Dimulai Sekarang
Siti Saroh menegaskan bahwa generasi muda memiliki pengaruh besar untuk menyebarkan tren gaya hidup ramah lingkungan. Menurutnya, bentuk dukungan terhadap lingkungan bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari yang terlihat sepele, seperti:
- Membuang sampah pada tempatnya.
- Memilah sampah organik dan anorganik.
- Menggunakan kembali barang yang masih layak pakai.
- Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
“Bahkan, langkah kecil seperti membawa botol minum sendiri atau menolak kantong plastik saat berbelanja sudah termasuk bentuk kepedulian terhadap lingkungan,” pungkasnya.