JAWA BARAT — Ribuan ton sampah elektronik dari perangkat telekomunikasi yang rusak atau tak terpakai selama ini menjadi masalah tersendiri bagi operator seluler. Telkomsel mengklaim telah menuntaskan persoalan itu dengan memastikan semua limbah elektronik yang dihasilkan perusahaan masuk ke skema daur ulang, pemakaian ulang, atau diperbarui lagi.
“Perubahan iklim adalah tantangan nyata yang dampaknya sudah dan akan semakin dirasakan. Dunia usaha perlu mengambil peran lebih besar untuk mendorong praktik yang lebih hijau dan berkelanjutan,” ujar Komisaris Utama Telkomsel yang juga Wakil Menteri Lingkungan Hidup RI, Diaz F.M. Hendropriyono.
Selain soal limbah, Telkomsel juga mengoperasikan 361 base transceiver station (BTS) yang sudah menggunakan panel surya dan mikrohidro. Jumlah itu masih kecil dibanding total 293 ribu BTS yang tersebar di Indonesia, namun menjadi langkah awal menuju efisiensi energi di sektor telekomunikasi.
Di sisi lain, perusahaan juga menanam lebih dari 12 ribu pohon mangrove sepanjang 2025 sebagai upaya menyerap emisi karbon. Kemasan kartu SIM yang beredar pun kini seluruhnya menggunakan material kertas ramah lingkungan.
Melalui pilar Jaga Cita, Telkomsel berupaya memperluas akses digital. Hingga 2025, sebanyak 360 desa yang sebelumnya tak tersentuh sinyal telekomunikasi kini sudah terhubung. Layanan ini menopang 156,1 juta pelanggan seluler dan 10,3 juta pelanggan IndiHome B2C.
Perusahaan juga membina sekitar 90 ribu pelajar, pelaku UMKM, komunitas, dan talenta muda lewat program sosial berbasis digital. Di internal, pengembangan keahlian di bidang kecerdasan buatan, keamanan siber, dan data science terus digenjot.
Pada pilar Jaga Data, Telkomsel menempatkan perlindungan data pelanggan sebagai prioritas. Perusahaan telah mengantongi tiga sertifikat standar internasional: ISO 27001, ISO 27701, dan ISO 25010. Sertifikasi ini memastikan layanan tetap aman dan andal di tengah meningkatnya kebutuhan digital masyarakat.
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menegaskan pertumbuhan bisnis harus berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Telkomsel meyakini bahwa perusahaan tidak mungkin maju sendirian tanpa lingkungan dan masyarakat di sekitarnya ikut berkembang,” kata Nugroho.
Sepanjang 2025, sekitar 83 persen dari total pendapatan perusahaan didistribusikan kembali kepada pemerintah, pemegang saham, pemasok, dan karyawan. Kontribusi itu ditopang lebih dari 235 ribu mitra outlet ritel yang tersebar di berbagai daerah.
Direktur Planning & Transformation Telkomsel, Wong Soon Nam, menambahkan perjalanan menuju bisnis berkelanjutan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. “Telkomsel ingin terus mendorong kolaborasi agar kita bisa bergerak bersama menciptakan dampak nyata bagi Indonesia,” ucapnya.