SUMEDANG — Plh Kepala BPS Kabupaten Sumedang, Wawan Kusmawan, menegaskan sensus ini bukan sekadar rutinitas statistik. "Sensus ekonomi yang terakhir adalah tahun 2026, sehingga tentu terdapat beberapa perubahan kondisi ekonomi saat ini," ujarnya di Sumedang, Kamis.
Wawan merinci tiga fenomena utama yang menjadi fokus pendataan. Pertama, perubahan pola konsumsi masyarakat yang bergeser drastis pasca-pandemi. Kedua, pergeseran struktur lapangan usaha—dari sektor tradisional ke jasa dan digital. Ketiga, lonjakan aktivitas ekonomi digital yang merambah hingga ke pelosok desa.
"Data yang dihasilkan akan menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran," tambahnya. Hasil sensus diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif tentang denyut nadi ekonomi warga Sumedang.
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir memberikan arahan tegas kepada para petugas. Ia menyebut kualitas data adalah fondasi perencanaan pembangunan yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.
"Data yang baik akan menghasilkan keputusan yang baik dan hasil yang baik. Sebaliknya, data yang buruk akan menghasilkan keputusan yang buruk dan hasil yang buruk," ujar Bupati Dony.
Kepala daerah itu meminta seluruh petugas bekerja sesuai SOP, menjunjung integritas, dan bersikap ramah saat bertemu warga di lapangan. "Data yang akurat menghasilkan kebijakan yang tepat, dan kebijakan yang tepat akan menghasilkan pembangunan yang berkualitas," tegasnya.
Bupati Dony menekankan bahwa 1.159 petugas yang disebar ke seluruh kecamatan memiliki peran strategis. Mereka adalah ujung tombak yang memastikan setiap data yang dikumpulkan valid, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sensus Ekonomi 2026 menjadi instrumen penting untuk menangkap dinamika ekonomi daerah yang terus berubah. Hasilnya nanti akan memperkuat basis data ekonomi yang akurat, mutakhir, dan komprehensif sebagai acuan utama perumusan kebijakan pembangunan di Sumedang.