JAWA BARAT — Pernyataan itu disampaikan Yuliot di Jakarta, Selasa (28/7/2026). Ia menjelaskan bahwa mekanisme harga Pertamax dihitung dari biaya pokok penyediaan (BPP) Pertamina ditambah margin wajar. Dengan skema tersebut, kenaikan harga minyak mentah dunia langsung berdampak pada harga jual di SPBU.
Menurut Yuliot, kondisi geopolitik global masih menjadi faktor utama yang membuat harga energi tidak stabil. "Untuk harga Pertamax ini kan kita mengikuti harga pasar, harga pasar ini kan kalau kita lihat kondisi secara geopolitik, jadi kan juga uncertainty-nya cukup tinggi. Jadi justru di pasar internasional kan harga naik," ujarnya.
Data menunjukkan, harga minyak Brent sempat menyentuh level US$96,78 per barel pada 24 Juli lalu. Artinya, dalam waktu singkat harga sempat melonjak tajam sebelum akhirnya mengalami koreksi.
Meski demikian, harga minyak mentah dunia mulai melemah pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Mengutip data Refinitif, harga Brent tercatat di US$87,86 per barel, turun 0,57% dari posisi sebelumnya. Sementara West Texas Intermediate (WTI) juga turun 0,77% ke US$81,97 per barel.
Pelemahan ini terjadi setelah pasar merespons positif peluang penyelesaian diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengaku pembicaraan dengan Teheran berjalan baik, meski tetap mengingatkan potensi serangan militer jika negosiasi gagal. Harapan akan jalur diplomasi ini meredakan kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah yang sebelumnya menjadi pendorong utama reli harga.
Kendati harga mulai terkoreksi, Kementerian ESDM mengingatkan bahwa risiko geopolitik belum sepenuhnya sirna. Kelompok Houthi di Yaman masih berpotensi mengganggu pelayaran di Bab el-Mandeb, jalur strategis yang terhubung ke Laut Merah. Ancaman serupa juga masih membayangi Selat Hormuz yang belum sepenuhnya normal.
Kedua jalur ini merupakan pintu utama distribusi minyak dunia. Gangguan di salah satunya bisa kembali mendorong harga minyak naik secara tiba-tiba.
Yuliot menjelaskan, Kementerian ESDM dan Pertamina akan terus memantau rata-rata harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah sepanjang Juli 2026. Jika rata-rata harga pasar mengalami penurunan dalam periode tertentu, Pertamina memiliki peluang untuk melakukan penyesuaian harga.
"Jadi nanti kami dari ESDM itu nanti akan mencoba melihat ya kira-kira harga yang ini keekonomian ya kira-kira bagaimana ya termasuk kalau potensi nanti ini harga itu secara rata-rata turun ya tentu dari Pertamina akan menyesuaikan harga," ujarnya.
Dengan dinamika yang ada, kepastian penurunan harga Pertamax pada Agustus masih menggantung. Konsumen diimbau untuk terus memantau perkembangan harga minyak dunia yang menjadi acuan utama.