BANDUNG — Dadang Setiawan menyampaikan peringatan tersebut di hadapan peserta sosialisasi yang membahas pengelolaan kualitas udara perkotaan. Menurut dia, sampah tidak semestinya dianggap sebagai material yang aman untuk dibakar begitu saja.
"Jangan menganggap sampah itu aman untuk dibakar. Kalau sudah terbakar dan menimbulkan dampak, akibatnya bisa lebih besar," tutur Dadang.
Api yang menyala di halaman rumah, lahan kosong, atau tempat penampungan sampah kerap dipandang sebagai cara sederhana mengurangi tumpukan limbah. Persoalannya tidak berhenti pada sampah yang lenyap menjadi abu. Asap yang dihasilkan dapat menyebar ke lingkungan sekitar.
Ketika pembakaran berlangsung tanpa pengendalian, dampaknya ikut dirasakan warga yang tinggal di sekitar lokasi. Kualitas udara yang setiap hari dihirup masyarakat menjadi taruhannya.
Bagi masyarakat, udara sering kali merupakan sesuatu yang tidak terlihat dan baru terasa penting ketika kualitasnya terganggu. Padahal, manusia bergantung pada udara setiap saat.
"Setiap hari kita bernapas, 24 jam dalam sehari, sepanjang hidup kita. Karena itu, kualitas udara menjadi sesuatu yang sangat penting," ujarnya.
Bandung sebagai kawasan perkotaan menghadapi berbagai sumber emisi yang dapat memengaruhi kondisi udara. Aktivitas kendaraan bermotor menjadi salah satu faktor, tetapi bukan satu-satunya.
Pembakaran terbuka, termasuk pembakaran sampah yang tidak terkendali, juga menjadi perhatian dalam pengelolaan kualitas udara. Dadang meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas tersebut, terutama ketika kondisi lingkungan lebih kering pada musim kemarau.