JAWA BARAT — Gelar juara Arsenal musim ini bukan diraih di lapangan. Momen bersejarah itu justru terjadi di Vitality Stadium, saat Bournemouth menahan City 1-1. Erling Haaland memang menyamakan kedudukan di menit akhir injury time, tapi itu tak cukup untuk memperpanjang persaingan gelar.
Arsenal mengemas 89 poin dari 37 laga, unggul empat angka atas City yang hanya menyisakan satu partai. The Gunners kini berhak menyandang gelar juara untuk ke-14 kalinya, terbanyak ketiga dalam sejarah sepak bola Inggris.
Gol Haaland Tak Cukup Selamatkan City
Bournemouth unggul lebih dulu lewat gol Eli Junior Kroupi. Pemain muda itu memastikan timnya lolos ke kompetisi Eropa musim depan dengan torehan tersebut. City baru bisa menyamakan kedudukan lewat Haaland di masa injury time, namun hasil imbang itu sudah cukup untuk mengunci gelar Arsenal.
"Selamat untuk Arsenal. Tapi dari City, kami berharap lebih. Saat gelar ada di tangan mereka, mereka tidak bisa menyelesaikannya," ujar mantan bek City Micah Richards. "Hari yang buruk. Jatuh seperti ini—kalah dari Everton, imbang dengan Bournemouth—kami berharap lebih."
Perjalanan Panjang di Tangan Arteta
Ini adalah musim penuh ketujuh Mikel Arteta menukangi Arsenal. Pelatih asal Spanyol itu mewarisi tim yang sedang terpuruk dan membangunnya kembali dari bawah. Hasilnya, The Gunners kini kembali ke puncak setelah tiga musim beruntun hanya menjadi runner-up.
Gelar kali ini sekaligus mengakhiri puasa panjang sejak era Arsene Wenger. Legenda asal Prancis itu terakhir kali membawa Arsenal juara pada 2004—musim di mana mereka menyandang status The Invincibles karena tak terkalahkan dalam 38 pertandingan.
Keyakinan Declan Rice dan Ambisi Double
Arsenal sempat diragukan setelah kalah dari City di Etihad bulan lalu. Namun tim London utara itu bangkit dengan empat kemenangan beruntun tanpa kebobolan. "Kami tahu dari dalam bahwa kami punya keyakinan dan masih bisa menang," kata gelandang Declan Rice. "Ini emosional karena melihat perjalanan klub dalam 10 tahun terakhir—naik turunnya."
Rice mengaku tak ada di Arsenal saat masa sulit itu, tapi ia mendengar ceritanya. "Klub ini pantas mendapatkan hal-hal baik dan kami bekerja keras untuk itu. Mari terus mendorong."
Arsenal masih berpeluang meraih double musim ini. Mereka akan menghadapi Paris Saint-Germain di final Liga Champions di Budapest, Sabtu (16/5) mendatang—partai yang bisa mengukuhkan status sebagai tim terbaik Eropa.
Pesta suporter sudah terlihat di berbagai pub di London utara. Mereka merayakan tanpa harus melihat tim kesayangan mereka bertanding. Akhirnya, setelah 22 tahun, Arsenal kembali menjadi raja Inggris.