BOGOR — Jeritan para perajin tempe mulai terdengar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Bogor. Harga kedelai yang terus merangkak naik ditambah melonjaknya harga plastik pembungkus membuat biaya produksi membengkak di luar kendali. Para pengusaha kecil ini kini harus merogoh kocek lebih dalam hanya untuk mempertahankan usahanya tetap berjalan.
Berapa besar kenaikan harga yang dialami perajin?
Meski bahan baku yang disediakan tidak menyebutkan angka pasti, para perajin mengaku kenaikan harga kedelai dan plastik terjadi secara bertahap namun konsisten dalam sebulan terakhir. Akibatnya, margin keuntungan mereka tergerus habis. Beberapa perajin bahkan terpaksa mengurangi volume produksi harian agar tidak merugi besar.
“Kami sudah biasa dengan fluktuasi harga, tapi kali ini berat. Dua komponen utama naik bersamaan,” ujar salah satu perajin yang enggan disebutkan namanya.
Apa dampak langsung bagi perajin tempe di Bogor?
Dampak paling terasa adalah menyusutnya omzet harian. Dengan modal yang sama, perajin kini hanya mampu memproduksi lebih sedikit tempe. Di sisi lain, mereka tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat di tingkat warung dan pasar tradisional masih terbatas.
Jika kondisi ini berlanjut, bukan tidak mungkin sebagian perajin akan gulung tikar. Hal ini akan berdampak pada rantai pasok tempe di Bogor yang selama ini menjadi salah satu sentra produksi di Jawa Barat.
Mengapa perajin mendesak pemerintah turun tangan?
Para pengusaha tempe menilai kenaikan ini bukan sekadar siklus pasar biasa. Mereka menduga ada faktor distribusi dan spekulasi yang membuat harga kedelai impor tidak terkendali. Plastik sebagai bahan pengemas juga naik seiring kenaikan harga minyak dunia.
Mereka meminta pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bogor, segera melakukan operasi pasar atau memberikan subsidi bahan baku. “Kami minta pemerintah bergerak. Jangan sampai UMKM tempe mati,” tegas perajin tersebut.
Apa yang bisa dilakukan selanjutnya?
Belum ada tanggapan resmi dari Pemkab Bogor terkait desakan ini. Namun, para perajin berharap ada pertemuan segera antara asosiasi pengusaha tempe dengan dinas terkait. Mereka siap menyampaikan data kenaikan harga secara rinci sebagai bahan evaluasi kebijakan.
Langkah intervensi seperti stabilisasi harga kedelai di tingkat distributor atau penyediaan plastik murah bersubsidi dinilai bisa menjadi solusi jangka pendek yang menyelamatkan ribuan tenaga kerja di sektor ini.
Apakah harga tempe di pasaran ikut naik?
Belum ada laporan kenaikan harga tempe secara massal di pasar tradisional Bogor. Sebagian perajin masih menahan harga dengan mengurangi ukuran atau ketebalan tempe. Namun, jika tekanan biaya produksi terus berlanjut, kenaikan harga konsumen menjadi keniscayaan dalam waktu dekat.
Siapa yang paling terdampak dari situasi ini?
Perajin tempe skala rumahan dan mikro menjadi pihak yang paling terpukul. Mereka tidak memiliki modal besar untuk membeli stok kedelai dalam jumlah banyak saat harga masih rendah. Berbeda dengan pengusaha besar, mereka tidak punya daya tawar terhadap pemasok.
Selain perajin, konsumen kelas bawah yang mengandalkan tempe sebagai lauk murah juga akan merasakan dampaknya jika harga jual akhir naik. Ini bisa memicu inflasi pangan lokal di Bogor.