BANDUNG — Subsektor kuliner yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi kreatif dengan kontribusi 41,06 persen pada 2025, kini mulai dilirik untuk dikombinasikan dengan industri penerbitan. Kementerian Ekonomi Kreatif menilai konsep library-cafe bukan sekadar tempat transaksi, melainkan ruang bertemunya komunitas, gagasan, dan berbagai produk ekonomi kreatif.
Data Kementerian Ekraf mencatat subsektor kuliner tumbuh 8,44 persen pada 2025 dengan nilai ekspor mencapai 0,28 miliar dolar AS pada Januari-April 2026. Sementara itu, subsektor penerbitan menyumbang 5,35 persen terhadap ekonomi kreatif dengan pertumbuhan 3 persen dan nilai ekspor 4,47 juta dolar AS pada periode yang sama.
Ruang Publik Baru untuk Diskusi dan Literasi
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya memberikan dukungan terhadap pembukaan AKC Library & Cafe di Jakarta, sebuah ruang publik berkonsep book club dan kafe kebijakan luar negeri pertama di ibu kota. Tempat ini diinisiasi oleh diplomat senior Indonesia, Dino Patti Djalal.
AKC Library & Cafe menghadirkan ruang baca, ruang diskusi isu global, serta koleksi buku nonfiksi hasil donasi para tokoh nasional dan diplomat. "Kami berharap AKC Library & Cafe dapat menjadi inkubator kreativitas tempat para pelaku industri saling bertukar gagasan dan menciptakan karya nyata," ujar Teuku Riefky.
Mengapa Model Bisnis Ini Dianggap Strategis?
Adopsi tren library-cafe dinilai kian diminati masyarakat karena menggabungkan kebutuhan bersantap dengan akses literasi. Kementerian Ekraf berkomitmen terus mendukung inisiatif serupa demi memperluas akses masyarakat terhadap ruang edukasi yang berkualitas.
Kolaborasi ini membuka peluang baru bagi pelaku usaha kuliner dan penerbitan untuk saling menguatkan. Pemilik kafe dapat menyediakan ruang baca sebagai daya tarik tambahan, sementara penerbit mendapatkan kanal distribusi dan ruang promosi yang lebih hidup.