JAWA BARAT — Apple Vision Pro sempat dianggap sebagai perangkat yang akan menggantikan semua layar. Headset mixed reality ini secara teknis mengesankan, tetapi faktor bentuknya yang berat membuat banyak pemilik awal menjualnya setelah masa "bulan madu" berakhir. Alhasil, perangkat bekasnya kini bisa didapat dengan harga yang jauh lebih ramah di kantong.
Harga Bekas Jatuh, Peluang Baru untuk Pengguna Indonesia
Di pasar global, Apple Vision Pro bekas kini rata-rata dijual sekitar USD 1.500 (sekitar Rp 24,7 juta dengan kurs Rp 16.500). Angka ini kontras dengan harga resmi perangkat baru yang dipatok USD 3.499 atau sekitar Rp 57,7 juta.
Bagi pengguna di Indonesia yang penasaran dengan ekosistem visionOS, banderol bekas ini jadi titik masuk yang lebih masuk akal. Meski begitu, calon pembeli tetap perlu mempertimbangkan ketersediaan aplikasi lokal dan dukungan layanan resmi yang masih terbatas.
Spesifikasi Kunci Apple Vision Pro
Perangkat ini mengusung layar micro-OLED dengan total 23 juta piksel untuk kedua mata. Ditenagai chip Apple M2 untuk komputasi utama dan chip R1 untuk memproses data sensor kamera, LiDAR, serta pelacak mata secara real-time.
Dari sisi software, visionOS hadir dengan antarmuka spasial yang memungkinkan pengguna menempatkan jendela aplikasi di ruangan fisik. App Store-nya memang belum sekaya iOS, tetapi aplikasi streaming utama seperti Disney+, HBO Max, dan YouTube sudah tersedia. Apple TV jelas jadi andalan, sementara Netflix masih menjadi pengecualian terbesar.
Cara Pakai ala Tim Cook: Menonton Sambil Berbaring
CEO Apple Tim Cook mengaku sering menonton serial Ted Lasso musim ketiga menggunakan Vision Pro sambil berbaring. Dalam wawancara baru-baru ini di acara premiere musim keempat Ted Lasso, ia kembali menegaskan metode tersebut.
"Oh ya, tentu saja, dan menontonnya sambil berbaring dengan Vision Pro, tidak ada yang bisa menandinginya," ujar Cook.
Metode ini menyelesaikan keluhan utama soal bobot perangkat. Saat kepala menempel ke bantal, beban headset tidak lagi menjadi masalah. Pengalaman menonton menjadi lebih imersif, terutama untuk konten 3D yang memang menjadi keunggulan layar Vision Pro.
Kekurangan yang Masih Ada: Keyboard Virtual dan Multitasking
Meski nyaman untuk menonton, Vision Pro belum menjadi alat produktivitas ideal. Keyboard virtual di layar masih kurang responsif untuk mengetik cepat, dan multitasking antar aplikasi terasa rumit. Ini membuat perangkat lebih cocok untuk konsumsi konten satu arah ketimbang bekerja aktif.
Bagi pengguna yang hanya ingin "TV raksasa di depan mata" sebelum tidur, membeli unit bekas dengan harga USD 1.500 bukan ide buruk. Dengan catatan, Anda memang sudah punya koleksi film 3D atau berlangganan layanan streaming yang didukung.
Kesimpulan: Layak Dibeli untuk Siapa?
Apple Vision Pro bekas paling masuk akal untuk pengguna yang fokus pada hiburan pribadi, bukan produktivitas. Jika Anda sering bepergian dan ingin bioskop pribadi di mana saja, perangkat ini menawarkan pengalaman yang belum bisa ditandingi perangkat lain di kelasnya.
Namun, untuk pengguna awam yang baru mengenal istilah headset mixed reality, sebaiknya tunggu generasi berikutnya atau pertimbangkan alternatif yang lebih murah. Teknologi ini masih dalam masa transisi menuju bentuk kacamata yang lebih ringan, dan Apple sendiri tampaknya akan meninggalkan form factor ini dalam beberapa tahun.