Jawa Barat — Penetapan Hari Tatar Sunda melalui regulasi gubernur menandai shift strategis pemerintah daerah mengintegrasikan pelestarian budaya dengan akselerasi ekonomi lokal. Sejak 2 Mei hingga puncaknya 18 Mei 2026, seluruh kabupaten dan kota di Tanah Pasundan akan menyelenggarakan aktivitas yang melibatkan kelompok kesenian tradisional seperti reak, Sasapian Buhun, dan berbagai seni lokal lainnya.
Iendra Sofyan menjelaskan momentum ini dirancang sebagai ruang kolaborasi masyarakat sekaligus stimulus ekonomi. "Ekonomi kreatif itu tumbuh dari aktivitas seperti ini. Ada produksi, distribusi, dan konsumsi yang terjadi secara langsung di masyarakat," ungkap Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan tersebut, Jumat (1/5/2026).
Ekosistem Ekonomi dari Pelaku Seni hingga UMKM
Peringatan Hari Tatar Sunda diproyeksikan menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap ekonomi daerah melalui mekanisme yang melibatkan berbagai stakeholder. Kirab dan karnaval budaya membuka peluang langsung bagi industri kreatif, mulai dari sanggar seni, perajin ornamen tradisional, desainer busana adat, hingga pelaku kuliner khas Sunda.
Permintaan signifikan akan timbul untuk kostum, properti budaya, dan dekorasi selama rangkaian acara berlangsung. Puluhan kelompok kesenian tidak hanya tampil sebagai hiburan, tetapi juga panggung transaksi ekonomi yang menghubungkan produsen dengan pasar lokal maupun wisatawan.
Napak Tilas Bersejarah Menarik Wisatawan Lokal dan Mancanegara
Daya tarik pariwisata bertumpu pada delapan titik sejarah yang akan dikunjungi napak tilas, mencakup wilayah dari Sumedang hingga Cirebon. Kehadiran Mahkota Binokasih — artefak bernilai sejarah tinggi — yang akan dikirab dengan pengawalan ketat menjadi magnet utama menarik wisatawan domestik dan mancanegara.
Aliran wisatawan dari jalur napak tilas secara langsung meningkatkan okupansi hotel, permintaan transportasi lokal, dan konsumsi di sektor kuliner dan retail. Nilai historis Mahkota Binokasih bukan hanya simbol budaya, melainkan juga aset ekonomi berbasis heritage yang dapat diperekonomi jangka panjang.
Puncak Acara di Gedung Sate Melibatkan Seniman Nasional
Pertunjukan kolosal pada 17 Mei 2026 di Gedung Sate akan menghadirkan Sujiwo Tedjo dan penampilan seni spektakuler yang diperkirakan menyedot perhatian publik luas. Strategi ini memperkuat eksposur Jawa Barat sebagai pusat budaya Sunda di tingkat nasional dan internasional.
Iendra Sofyan mengidentifikasi tiga dampak utama dari peringatan ini: penguatan identitas budaya, peningkatan interaksi sosial lintas komunitas, dan pertumbuhan ekonomi yang terukur. Ekosistem yang terjalin menghubungkan pelaku seni, komunitas masyarakat, institusi pemerintah, dan pasar dalam satu momentum terpadu.
Konsep Ramah Lingkungan Buka Peluang Ekonomi Hijau
Acara dirancang tanpa kendaraan bermotor dan memanfaatkan energi bersih, menciptakan peluang inovasi baru di sektor event dan pariwisata berkelanjutan. Pendekatan ramah lingkungan ini menjadi diferensiator sekaligus potensi apresiasi dari wisatawan yang semakin peduli isu keberlanjutan.
Prospek Naiknya Status Menjadi Peraturan Daerah
Pemerintah daerah berencana mendorong regulasi ini naik status menjadi Peraturan Daerah (Perda) agar memiliki kekuatan hukum yang lebih kuat dan berkelanjutan. Dengan penguatan regulasi, Hari Tatar Sunda berpotensi masuk kalender wisata nasional dan menjadi agenda tahunan berskala besar.
Jika dikelola secara konsisten, momentum ini dapat menjadikan Jawa Barat sebagai episentrum ekonomi kreatif berbasis budaya di Indonesia, di mana tradisi tidak hanya dilestarikan tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi berkelanjutan bagi ribuan pelaku usaha dan komunitas lokal.