BANDUNG — Amartha merilis laporan keberlanjutan terbaru yang mengungkap dampak signifikan akses pembiayaan terhadap pertumbuhan ekonomi pelaku usaha mikro di akar rumput. Hasil riset menunjukkan 89 persen UMKM binaan mengalami kenaikan pendapatan setelah mendapatkan akses permodalan formal.
Pertumbuhan pendapatan rata-rata tercatat mencapai 63 persen bagi para pelaku usaha kecil tersebut. Hingga saat ini, dampak positif itu dirasakan oleh 2,3 juta dari total 3,9 juta UMKM binaan yang tersebar di lebih dari 50.000 desa di seluruh Indonesia.
Menutup Celah Pendanaan UMKM Rp2.400 Triliun
Kesenjangan pembiayaan masih menjadi ganjalan utama pengembangan sektor UMKM. Kebutuhan kredit sektor ini diproyeksikan menembus Rp4.300 triliun pada 2026, namun realisasi saat ini baru menyentuh angka Rp1.900 triliun. Terdapat gap pendanaan sekitar Rp2.400 triliun yang belum tergarap.
“Pembiayaan inklusif tidak hanya membuka akses modal, tetapi juga menjadi katalis penting dalam meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha mikro,” ujar Founder dan CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra.
Andi menegaskan instrumen pembiayaan bertujuan memperkuat ekosistem usaha sekaligus meningkatkan kapasitas dan daya saing pelaku UMKM. Hal ini menjadi krusial mengingat UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional.
Peran Fintech Percepat Inklusi Keuangan Nasional
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai akses keuangan menjadi kunci mobilitas ekonomi masyarakat bawah. Banyak pelaku usaha belum terhubung dengan sistem perbankan formal sehingga sulit berkembang.
“Ketika akses ini terbuka, dampaknya tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga,” jelas Huda.
Adopsi teknologi finansial terbukti mempercepat inklusi keuangan hingga 41,5 persen lebih tinggi dibandingkan metode konvensional. Kehadiran pinjaman daring juga memicu pertumbuhan ekosistem keuangan baru, termasuk munculnya agen layanan keuangan di tingkat lokal atau pedesaan.
Transformasi Usaha dari Melaut ke Warung Kelontong
Dampak nyata pembiayaan ini dirasakan langsung oleh Mama Redha, salah satu mitra binaan. Sebelumnya, ia hanya bergantung pada hasil laut yang pendapatannya tidak menentu akibat faktor cuaca ekstrem.
“Hasil laut tidak menentu karena bergantung pada cuaca. Saya butuh pendapatan tambahan. Berkat modal tanpa agunan dari Amartha, kini saya memiliki warung kelontong yang menjadi sumber penghasilan utama,” ungkap Mama Redha.
Amartha berkomitmen terus memperluas jangkauan permodalan bagi pelaku usaha mikro ke depan. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat di pelosok daerah yang selama ini sulit menjangkau lembaga keuangan formal.